skrapnovel

Name:
Location: California, United States

http://jazzholic.com

Sunday, July 04, 2004

Cerita Mereka II (ending part 2)

Mataku terpana melihat kehadirannya, sekujur tubuhku lemas rasanya. Pemuda itu yang tadinya masih senyam senyum disebelah Reza, begitu melihatku dia juga terlihat kaget sekali.

Rio. iya, itu dia RIO. Oh my, oh my.

Cepat2 kuraih gelas wine yg ada didepanku itu, sebelum Reza mengajak kami semua berkenalan dengan tamu yg baru saja datang itu.

"Hey guys, ini nich boss besar kita! kenalin ini dia Pak Rio Yanuar Iskandar, yg bakalan jadi boss kalian juga..." kata Reza sambil tersenyum2 gembira. Lalu berganti melihat kearahku, Reza melanjutkan, "Nahh kalo yg ini, kenalin ini Ella.. tamu special gue, barusan dateng dari LA...." cowo itu mengedipkan matanya kearahku.

Dengan canggung, kami berduapun bersalaman. Rio menatapku tak berkedip, sementara aku hanya tersenyum menyapa sekedarnya. Kok bisa begini sih,... ya ampunn... pikirku cemas.

Lalu kami semuapun larut dalam suasana pesta malam itu. Sikap Reza yg begitu hangat, membuatku semakin canggung bersikap didepan Rio, apalagi sewaktu Reza melihatnya sedikit mendiam sejak berkenalan dengan Rio. Cowo itu dengan sabar menemaniku dan selalu berada disampingku. Mungkin dia pikir aku kurang nyaman berada di pesta yg tidak ada seorangpun tamu disana yg mengenalku.

Wajah Rio terlihat sedikit letih, namun tetap seperti yg selalu kubayang2kan... tetap berwibawa, dan berkarisma. Tetap seperti yg kuingat sewaktu sebelum kami berdua berpisah dari pesta dimalam itu.

Malam dimana semuanya berubah dalam sesaat. Dimalam aku lari dari keadaan yg begitu menjepit dan menyiksa batinku. Ya... kalian masih ingat, waktu itu Rio berbalik menghampiriku, sesaat setelah Josh berjalan meninggalkanku. Rio bahkan dengan jujur mengatakan bahwa dia tidak sanggup hidup tanpaku...tapi apa yg ku lakukan saat itu? Tanpa mengatakan apa2, aku dengan setengah menahan tangisku, pergi berjalan meninggalkannya seorang diri disana....

Kutinggalkan semuanya dan pergi menyendiri selama berbulan2 ditempat saudaraku. Tanpa memberi kabar kepada keduanya, Josh dan Rio. Tak sanggup rasanya untuk memilih satu diantara mereka berdua. Dua2nya begitu penting dihatiku saat itu.

Egois? iya.. mungkin memang saat itu aku teramat egois. Keduanya seolah kuberi harapan semu, lalu pada akhirnya aku menolak keduanya. Tapi ternyata, justru waktu itu lah yang memberikan peluang untukku lebih mengenal hatiku sendiri.

Setelah kejadian itu, konon kabarnya Josh sendiri bisa lebih cepat melupakanku. Sekitar setahun setelah itu, kudengar kabarnya dia sudah bertunangan dengan seorang gadis. Sedangkan Rio, semua temanku hanya bilang dia pindah balik ke Jakarta untuk membantu perusahaan Papanya. Itu saja yg ku tau. Dan kami pun sama sekali hilang contact, tidak ada yg berusaha mencari atau menghubungi.

Ah, masa laluku yg begitu rumit. Penat rasanya bisa mengingat2 itu kembali. Memang ini semua yg kutakutkan, takut teringat-ingat kembali. Padahal waktu Tiana mengajakku berliburan di Jakarta selama 3 bulan, alesannya sih sambil nengokin ponakanku Icha yg sebentar lagi berumur 4 tahun itu.

"Pak Reza.. dicari Pak Rudy Sendjaya dari PT Cibinong.." sapa seorang waiter kepada Reza yg asik berbincang2 dengan Rio.

"Oh ok.. nanti saya kesana..." jawab Reza berwibawa. Dia berbalik arah melihatku,"bentar ya La.. saya kesana dulu..." dia berpamitan sambil menyentuh pundakku lembut. Aku tersenyum mengangguk saja.

Lima menit aku terdiam aja memandang kedepan, takut untuk melihat kearah samping kananku, ditempat Rio duduk. Cowo itu sepertinya tahu bahwa aku menghindarinya, namun setelah ditunggu 10 menit, tidak ada tanda2 Reza akan balik duduk ditempat itu, Rio pun memilih untuk pindah kesampingku.

"Ecel..." panggilnya lembut sambil menyentuh lenganku. "Masih inget saya kan?" tanyanya terbata2, takut terdengar oleh orang2 disekitar kami. Aku tersentak sedikit, lalu berusaha menahan rasa canggung itu sambil pura2 mengambil gelas air putih yg ada disamping kiriku.

Rio tersenyum melihatku. "Kirain tadi aku salah orang... abis kamu beda sih sekarang. Lebih keliatan kayak ibu2... " godanya sambil mengerling lucu. Ah, gayanya itu lho... ngegemesin banget sih...

Mendelik mataku mendengar kalimatnya barusan, enak aja ibu2.. pikirku dalam ati....

"Daripada kamu kayak om om." jawabku singkat sambil menoleh kearahnya.

Mata kami beradu, sekelibat kulihat pancaran sinar dimatanya. Mata yg teduh itu...

"hehehe... makin pinter ngeles aja ni anak :P hmm apa kabar nih.. gak sangka ketemu disini." tanya Rio lega, akhirnya ice-breaker itu ampuh juga. Kami berdua pun mulai tertawa2, mulai sedikit lega, gak setegang tadi.

Untung Reza gak disitu, mungkin bisa bingung melihat keakraban kami yg beda banget sama waktu tadi dikenalin.

"Pantesan si reza... dia gak pernah bilang pacarnya secantik kamu..." gumamnya sambil melirik tajam kearahku. Pancaran mata cemburu...

Aku menelan ludahku, bingung musti jawab apa. Pacar? sejak kapan aku jadi pacarnya Reza? Selama 3 mingguan ini kami cuma temenan biasa, gak lain cuma pergi makan berdua,.. atau pergi nonton rame2 sama Tiana dan Dre.

Rio sepertinya tidak menungguku menjawab pernyataannya tadi. Dia meneruskan...
"sampe kapan di Jakarta 'La? bareng om & tante ato cuma sendiri?"

"hmm *nelen ludah* sendiri koq... tinggal ditempatnya Tiana.." jawabku sambil berusaha decide, bilang gak ya kalo aku bukan pacar Reza?

Sebelum sempat berkata2 lagi, Reza dari belakang mulai memanggil namaku. Dia sepertinya sedang sibuk sekali, jadi tak begitu menghiraukan the fact that Rio udah pindah duduk disebelahku.

"Sorry sorry La... duch kok tiba2 semua tamu pengen ngobrol2 ama saya..hehee kamu blon mau pulang kan? tungguin saya dulu ya... ngobrol2 aja tuh sama Rio hehee..." kata Reza cepat2, sepertinya dia cuma mau ngecek keberadaanku. Sedikit lega kali melihat aku belum terlihat bosan minta pulang, masih anteng disana ngobrol2 sama yg lainnya.

"iya ga papa za.. don't worry bout me. ntar aku bisa pulang kok sendiri..."

"ehh jangann..." jawab Reza dan Rio barengan. Mereka berdua kaget sendiri lalu ketawa2 garing. "gak bae malem2 anak gadis pulang sendiri... " jawab Reza akhirnya setelah beberapa detik menunggu Rio berkata2. Rio tersenyum malu sambil sesekali melirik kearahku.

"eh yo... ato loe aja kali yah tolongin gue..." kata Reza lagi, "anterin dia pulang dong, bisa gak? hehee gue kayaknya bisa ampe malem nih disini"

Aku hampir tersedak mendengar Reza berkata begitu. Rio sendiri keliatan kalem, namun berusaha menghindari tatapanku.

"oh... boleh boleh.... ntar supir gue juga bisa anterin lah...gampang dehh" Rio pun menjawab santai. Hmm.. keliatan kalem sih, padahal hati dag-dig-dug seneng tuh..

"ehh jangan supir atuh, gile loee... loe aja lah anterin dia ya, biar gue bisa tenang nihhh...hehee" bantah Reza sambil mengedip2 lucu kearahku. Rio tampak terdiam bingung. Hayuluhh... pusing kan sekarang, pikirku sambil senyam senyum cuek.

"ok ok ok... iye dehh alright." akhirnya Rio menyanggupi. Tak lama kemudian,
Reza pun meninggalkan kami berdua yg masih bengong melihatnya jalan menjauhi meja.

"Hmpff... gimana nih, ...baru juga dateng, udah dapet tugas ngawal tuan putri balik ke istana..." goda Rio sambil berusaha melucu. Wajahku tiba2 langsung panas, maluuu banget.

"hm tuan putri mau pulang sekarang dong" jawabku singkat. Kagok mentok hehee... mending pulang aja deh ah. Malam ini koq jadi aneh gini sih, pikirku pusing.

Rio keliatan bingung sebentar, lalu mengangguk2 setuju sambil ketawa nyengir.
"ok ok.. your wish is my command, princess" jawabnya lucu. Diambilnya jaketnya dari bangku, lalu kami pun berdua berjalan keluar.

Didalam mobil Rio, ada seorang supir yg udah siap mengantarkan tuan mudanya pulang.

"hmm 'Man.. nih kamu pulang aja langsung kerumah deh.. biar saya yg nyetir mobilnya" kata Rio sambil tangannya memberikan uang utk supirnya itu. Diman, supirnya keliatan sangat senang menerima 'tugas' itu, gimana gak.. malam minggu begini, udah jam 11 malam belum pulang kerumah, bisa2 istrinya ngomel2 lagi deh.

"baik pak... makasih.." jawabnya sambil melirik senyum kearahku. "mari non..." sambil pamit dia pun pergi.

"yuk cel.. saya anter... tapi kasih tau jalan ya...hehee"

Dan setelah dia mengantarku masuk kedalam mobil, Rio mulai menyetir mobilnya perlahan2 keluar dari halaman parkir hotel Borobudur.

Didalam mobil, suasana mendadak jadi agak canggung lagi. Kami berdua terdiam sejenak, lalu tangan Rio mulai meraih ke tombol stereonya. Memencet2 sebentar lalu wajah Rio keliatan kagok sebentar sebelum lalu,... suara piano sebuah lagu yg tak asing lagi membuatku ikutan kaget. Kami berdua melirik kearah masing2... sementara suara piano mulai terdengar lembut...

remember when..
we never needed each other...
the best of friends like sister and brother.
we understand.. we never be alone...

those days are gone
now i want you so much
the night is long
and i need your touch
don't know what to say
never meant to feel this way
don't wanna be alone tonight...

what can I do to make you mine....falling so hard so fast this time...


"...how did i fall in love with you...." suara Rio ikut terdengar lembut.
Astaga, dia nyanyi lagi. Lagu ini lagi, pikirku buru2.. what to do, what to do…

Duh ini apaan sih, kok jadi norak banget gini, dag dig dug jantungku tiba2...

Rio tersenyum sambil mengecilkan suara lagu itu jadi background kami.
"Langsung pulang kan cel?" tanyanya lembut.

Tatapan matanya sungguh sanggup membuat gadis-gadis luluh seketika. Aku mengakui, sobatku yg satu ini memang gak ada matinya kalo dalam hal merayu wanita. Sudah banyak korban2 yg ku tau patah hati karena sifatnya yg cuek2 manis itu.

"iya lah.. mo kemana lagi udah malem gini." jawabku singkat. Ga berani membalas tatapan matanya, malah kupalingkan wajahku menghindarinya.

"hmm baru jem 11... blon ngantuk kan? tiba2 pengen ngemil nich.. beli dessert yuk?" ajaknya tiba2 sambil memutar arah mobilnya dengan santai.

"iyo..."

"Nahh.. akhirnya kamu manggil juga. Dari tadi tuch ditunggu2in, kirain beneran lupa nama saya... " jawabnya lucu. Tampangnya itu udah lebih tenang dari yg tadi. Gak setegang sebelumnya mungkin.

"ya masih lah. hmm I'll call Tiana deh.. gak enak kalo pulang kemaleman."

"ga papa.. dia juga pasti ngerti lah. bilang aja lagi diculik ama Rio. or hmm unless kamu takut Reza marah?" tanyanya hati2. Ah iya, Reza.

"hmm Reza juga paling blum pulang kok..." jawabku asal. Hmm, lagian dari tadi juga si Reza gak nelpon2 juga... berarti dia percaya banget sama Rio kali ya? pikirku dalam hati. Pingin bilang, Reza bukan pacarku, kok rasanya susah banget ya? ntar dipikir kenapa2 lagi.

"oh... ya udah.. jadi ok kan? ke Mustika Lounge dulu ya? dessertnya ok banget tuchh.. boston creampie kesukaan kamu,..ga kalah enak dehh sama cheesecake factory!" sambut Rio antusias. sepertinya jawabanku 'iya' atau 'tidak' sudah gak begitu penting lagi buatnya. Udah seneng banget bisa berduaan dimobil begini, apa aja juga dijabanin kali mahh.. pikir Rio senang.

Limabelas menit kemudian, kami pun berdua udah duduk di satu meja yg menghadap pemandangan kota Jakarta yg terlihat begitu indahnya. Rio sengaja memilih meja ini, katanya sih meja favoritnya. Aih..aih.. udah berapa cewe nich yg duduk dimeja ini dengannya.. pikirku sedikit cemburu.

“Udah milih? Mau apa cel…? Boston cream-pie aja? Yg laen juga dong… enak2 lho…” tanya Rio sambil memandangku yg lagi bingung takjub melihat daftar2 makanan dimenu yg didesign bagus itu.

“Iya kali yo.. banyak amat ini pilihannya. Bingung.” Jawabku singkat sambil malu juga diliatin gitu.

“hehehee ya udah… mesen boston cream pie’nya satu, sama strawberry crepesnya satu ya” sambil memesan lalu Rio menutup menunya. Waiter itu lalu mengangguk sopan lalu mundur pergi.

“blon pernah diajak kesini sama Reza ‘cel? Tempatnya asik kan… ngingetin gue sama jazz blue café kita…” kata Rio lagi. “kita”? errr… aku terdiam bingung sambil melihat wajahnya lekat2. Kali ini kuberanikan diri menatap matanya yg bagus itu.

"belum.. hm Reza mungkin ngajak pacarnya kali mah kesini…” kataku mengumam pelan. Rio sedikit bingung sambil mengerling lucu..

“Hm? Pacarnya Reza bukannya kamu?” tunjuknya kearahku sambil menatap bingung. Harap harap cemas kali ya… hihi..

“ya bukan lah… sapa yg bilang….” Jawabku santai sambil tersenyum geli melihat tampang Rio yg keliatan bener2 bingung berat.

“yaelahhh… tau gituuu…”

“hm….? Tau gitu apa.”

“hahahaa.. gak gak… wahhhh …” Rio menahan perkataannya, tapi aku tau, ada nada lega yg luar biasa keluar dari ucapannya itu. Dia tertawa cengar cengir malu.

“Gila ya… gak sangka bakal ketemu kamu lagi. Saya pikir ntar ketemu2 lagi, kamu udah jadi mami2…udah punya anak 4….” Rio menyerocos saja demi menutupi rasa malunya itu. Siapa yg gak seneng sih, emang dari lima tahun yg lalu itu, Rio menyesal pulang balik ke Jakarta begitu saja. Setelah capai mencari2 keberadaan gadisnya itu, dia pun berpikir mungkin memang tidak ada jodoh, makanya sulit sekali bisa bersama2 dengan satu2nya gadis yg mampu membuat hatinya merasa sesak napas kalo melihat tangan laki2 lain merangkul atau menggandengnya.

Rio menatap mata gadis didepannya itu lekat2. “tau gak sih kamu…...udah cape sayah mimpiin kejadian kayak sekarang ini….” Sambungnya lagi. Kami berdua terdiam sejenak.

“Lho?” kami berdua kaget mendadak. Kok lagunya ini? Heheheee…. Sebuah lagu familiar, melantun dari background musik, lembut sekali…. Hmm… aneh, apakah ini sign dari yg Diatas?

“Keinget wkt itu kamu nyanyi dipanggung sambil nyanyi lagu ini…” kataku sambil tersenyum melihat ada kilatan sinar dari kedua matanya yg teduh itu. Tatapannya itu mungkin sudah lama kurindukan…dan sekarang, ini kah kesempatan kami sekarang?

Disanakah ku berlabuh? Atau, inikah yg namanya satu pelajaran hidup manusia, dua insan dipertemukan dalam jangka waktu yg susah ditebak kapan awal dan akhirnya.

How did I fall in love with you…

----------
3 months later….

“Alright… now my bro here, Rio said he has something to say!” suara Dre yg cukup lantang itu membuat seluruh tamu2 dirumahnya berhenti ngobrol dan langsung menoleh kearahnya.

Pesta kebun yg diadakan dirumah Dre dan Tiana memang keliatan begitu semarak dan rame sekali. Banyak tamu2 yg diundang dari sana sini, entah siapa aja. Reza juga ada disana, kayaknya ditemani seorang gadis ayu yg dari tadi ikut terus kemanapun ia pergi. Aku tersenyum ramah kearahnya, menjawab lambaian tangannya dari jauh.

Hari ini, ultah Icha yg ke 4, anak satu2nya Dre & Tiana. Semua tamu langsung dengan sigap balik ke tempat masing2, menunggu Rio yg dengan tegapnya berjalan meninggalkanku menuju kedepan.

Tiana, kakaku, tiba2 datang sambil menggendong Icha, ponakanku, lalu duduk tepat disebelahku.

“Tante lala…tante lala…icha mo endong…” rengeknya begitu melihatku. Kami berdua tertawa geli, akhirnya tukeran, aku yg menggendong Icha. “icha punya lolipop, auk?” gadis cilik itu dengan lucu menawarkan es lolipop orange kearah mulutku. Ughh gemees akuu.. sambil mencubit2 pipinya, aku ciumi terus si icha.

Sementara itu, Rio terlihat berbisik2 sebentar dengan Dre. Lalu sambil ketawa2, Dre pun berjalan balik ke mejaku. Tampangnya yg begitu mencurigakan, hanya bisa ditebak oleh istrinya sendiri.

“Thanks Dre… hmm olrite…” Rio terbatuk sebentar sebelum meneruskan… “most of you guys know me already hehee… thanks for being here, it meant a lot to us, especially to Dre & Tiana… hmm if I may take a bit of your time here, … hmm, sorry I’ve never done this before, so.. hmm here it goes…” cowo tampan itu mulai terlihat resah dan canggung, sambil terbatuk2 sebentar, dia mulai meneruskan lagi… “This is a special song for a special lady over there…..” Rio menujuk kearahku sambil tersenyum.

Tiba2 ia berbalik badan, mengambil gitar, lalu berjalan menghampiriku…

Semua orang berbalik arah, mengikutinya… lalu cowo itu duduk tepat didepanku, sambil mengambil kursi, lalu Tiana pun langsung mengambil alih Icha dari pangkuanku. Kakakku mengedip2kan matanya lalu berjalan cepat kesamping suaminya.

Sementara itu semua orang mulai berbisik2 riuh, ‘awwww…..’ ada yg langsung bertepuk tangan begitu Rio mulai memetik gitarnya..

Aku sendiri? Kaget setengah mati. Wajahku terasa memerah dan semakin lama semakin ingin kutimbunkan ke pundak Tiana. Tapi sayang, kakakku sengaja berdiri agak jauh dariku, mengikuti semua orang yg berdiri mengelilingi kami berdua. Suara Rio pun mulai terdengar… dengan lembut, tatapannya terus terpaku kearahku….

Do you know I exist
Just to promise you this
Endlessly to be true to you
And if you answer my prayer
I'd cross my heart and I'd swear
Endlessly to be true to you
And if you'd only see
How beautiful you and I would be
Endlessly


“Waaaaa… uhuyyyy..... “ pecahlah suara semua tamu yg ada disitu, witness peristiwa bersejarah ini. Tiana dan Dre tertawa2 sambil teriak2 heboh. Reza sendiri sepertinya juga ada disitu ikutan meramaikan suasana tegang itu. Lalu seperti diaba2, mereka semua mulai terdiam lagi begitu Rio meletakkan gitarnya lalu merogoh kearah saku kirinya.

Sebuah kotak hijau kecil dikeluarkannya dari sana. Dengan kedua mata yg terus menatapku, airmataku hampir jatuh rasanya… dengan kedua tanganku, tak kuasa untuk menutupi wajahku yg saat itu benar2 … susah untuk digambarkan…

Rio lalu berlutut tepat didepanku… menyentuh lututku lembut sambil tertawa, dengan mata berkaca2. “cel….”

Pelan-pelan kulepaskan kedua tanganku, sambil masih mengusap2 airmata yg mulai berjatuhan itu… mulai kuberanikan diri menatapnya, menatap jauh kedalam kedua mata indah itu.

Rio membuka kotaknya, lalu terlihat satu cincin diamond yg luar biasanya indahnya.

*Gasp* “Astaga......…..” seruku kaget. Cincin yg teramat sangat indah muncul dari kotak kecil itu…

“I’ve been waiting to give you this for so long…” Rio terdiam sebentar, lalu melanjutkan lagi…
“Grachella Francesca Wiyanto, would you be the answer to my prayer?”

Seluruh ruangan terdiam. Sunyi.

Aku mengigit bibirku sambil terus menerus mencoba menahan airmataku yg mulai hampir banjir ke pipi. Tiana dan Dre, dan semua orang melihat kearahku.

Sedetik. Dua detik…

“Yes… ” aku mengangguk pelan. Rio tersenyum lega sekali. Dan semua orang pun mulai teriak2 gak jelas. Riuh sudah suasananya setelah itu.

Rio meraih tangan kiriku, dikecupnya sesaat sebelum dipasangkannya cincin itu ke jari manisku.

“it's always been you.... always.” bisiknya lembut sebelum kami berpelukan erat. Dikecupnya bibirku, sebelum lalu memelukku lebih erat lagi, membuat seluruh orang disana berteriak menggoda kami. Tiana kakakku sudah antri menunggu jadi orang pertama yg memelukku erat sambil langsung mendecak kagum melihat cincin dijari manisku itu.

“Pinter kamu milih ‘yo… hehehe… dikasih tips dari sapa nih?” tanya Tiana nakal sambil melirik kearah suaminya yg menggendong sang buah hati yg jatuh tertidur pulas. Dre mengedipkan matanya sambil menertawai Rio yg terlihat ketawa malu sambil mesem2 melihatku dengan bangga.

Teman2 yg hadir disana langsung mengambil inisiatif peluk cium cipika-cipiki, lalu dengan spontan yg cowo2 berdiri mengerumuni Rio, dan yg cewe2 ganti-gantian melihat cincin pertunanganku itu. Lega sekali rasanya… this all seems quite right. Beban yg dulu ada dihatiku rasanya hilang semuanya tak bersisa.

Setelah capek mengantar tamu2 pulang, akhirnya aku dan Rio terduduk lemas dipinggir kolam renang itu. Rio sesekali memijit2 pundakku sambil lalu mengecup pipiku berkali2.

“Ga nyangka yah akan ada hari ini… *Rio memelukku dari belakang* thanks for choosing me baby, you have just made me the happiest man alive…” pelukannya yg begitu hangat, begitu membuat seluruh jiwa ragaku terasa tenang.

and this, is where I want to be, ….
this is how I fall in love with you… .


(the end.)