Name:
Location: California, United States

http://jazzholic.com

Sunday, May 23, 2004

Miranda (Edisi Pertama)



Hari masih pagi sekali. Suara cicuitan burung terdengar ramai sekali. Burung2 itu berloncat-loncat dengan riangnya di cabang-cabang pohon mangga di sebelah kamarnya. Miranda memandang burung2 itu dengan mata amat tertarik. Dengan menopang dagunya, Miranda seakan-akan ingin merekam pemandangan alami itu.

"Mira!"

Keasyikan Miranda terganggu oleh teriakan Mama. Pasti disuruh sarapan deh, gumamnya malas sembari bangkit dari duduknya. Dan memang betul, Mama sudah menunggu di meja makan ditemani Papa yang sedang membolak-balik koran paginya. Miranda menarik napas panjang. Tak ada selera sama sekali untuk makan pagi.

"Makan dulu, Mira. Jangan pergi ke sekolah dengan perut kosong seperti itu," tegur Mama sembari mendorong gelas susunya.

Mirada tidak membantah dan meminum susunya dengan mematikan perasaan muaknya. Kalau tidak, Mama bisa ngomel2 terus.

"Kamu pergi ke sekolah sendirian aja hari ini ya, Mir. Kakakmu rupanya masih kecapekan karena acara tadi malam," kata Mama selanjutnya.

Lagi2 Miranda hanya diam saja. Tentu saja Mirella boleh tidak sekolah hari ini, dengusnya dalam hati. Mama kan masih bangga setengah mati karena tadi malam Mirella dinobatkan sebagai Gadis Sampul sebuah majalah remaja beken. Gelar kesekian kalinya untuk Mirella.

Aku tidak cemburu sama sekali kok, bantah Miranda ketika suara yang menuduhnya jealous sama keberhasilan kakaknya. Tidak, aku tidak pernah punya pikiran seperti itu. Soalnya aku sendiri memang amat mengagumi kecantikan kakakku dan merasa memang Mirella pantas mendapatkan gelar itu.

Tapi...ah, entahlah. Miranda menggelengkan kepalanya seakan-akan dengan demikian dia bisa mengusir rasa tidak enak yg muncul tiba2 disudut hatinya. Dengan pikiran yang setengah melamun seperti itu, Miranda mencoba menyenangkan hati Mama dengan menghabiskan roti dan minumannya.

Rasa segan dan malah semakin kuat menyerang Miranda ketika dia sampai di sekolah. Bukan saja karena dia belum siap dengan pelajaran Fisika pak Tobing, tapi juga karena...

"Hei Mir....kakak loe hebat banget ya... Gue kemaren malem kan nonton juga tuch. Kakak eloe emang cakep buangettt...sampe pangling sendiri gue liat doi." sambut Edu, teman sekelasnya di muka pintu kelas.

Miranda mengangguk asal2an. Dia tahu, dia akan menerima sambutan yang sama dari teman2nya yg lain.

"Hei Mir, sini! ayo ceritain donk.. wahh kakak loe hebat deh. Baru bulan kemaren terpilih jadi Top Model, sekarang malah jadi Gadis Sampul lagi.. ck ck ck ...loe kecipratan hadiah apa?" tanya teman2nya yg lain.

"Tauk tuh...blon dibagi." jawabnya sambil menyimpan tasnya.

Sampai bel masuk, teman2nya masih ribut terus tentang kemenangan Mirella, dan Miranda harus bersedia memberikan pers release, mewakili kakaknya.

beberapa jam kemudian.....

"Mira!!"

Suara Mirella yang melengking tinggi itu mengagetkan Miranda dari keasyikannya mencoret2 sesuatu diatas sebuah kertas gambar.

"Yup! knapa?" balasnya tanpa bangkit sama sekali.

"Keluar dong... temenin gue yuk..." ajak Mirella sambil berdiri diambang pintu kamar. Dandanan Mirella selalu terlihat rapi meskipun tidak mengenakan make-up. Miranda memandang kakaknya dengan kagum dan bangga.

"Aahh males ah 'La. Tanggung nih..." tolaknya cepat, sebab ia tahu apa keinginan kakaknya itu. Pasti deh Mirella mau ngenalin dia dengan cowo2 yang sebagian besar adalah fansnya itu.

"Ngerjain apa sih??" Mirella memajukan kepalanya. Tapi Miranda dengan sigap segera menutup kertasnya. Mirella cemberut karena dihalang2in seperti itu.

"Iya deh rahasiaaa. Tapi Mir,..masa loe mau dikamar terus sih? Keluar donk, ntar gue kenalin sama temen2 gue tuh...kece2 loh Mir..." promosi Mirella.

"Duh males ah... sorry deh La.. gue ga bisa. Lagi males. Ga papa kan?" dipandangnya Mirella dengan mata memelas, biar kakaknya tidak memaksa lagi.

Mirella menarik napas panjang. Lagi2 dia gagal menarik si pemalu ini untuk keluar dari sarangnya. Mirella sayang sekali pada adik satu2nya itu, dan tak ingin melihat Miranda menghabiskan hari2nya cuma dikamar saja. Mirella ingin adiknya seperti gadis2 muda lainnya.

"Iya deh. Tapi kalo kamu berubah pikiran, ke depan ya Mir?"

Miranda tersenyum kecil lalu membalikkan tubuhnya menghadap meja gambarnya lagi. Mirella mengangkat bahu tinggi2, lalu berlalu menemui tamu2nya lagi. Sementara itu Miranda tersenyum sendiri melihat ada sepasang mata yang tampak hidup dari coretan2nya. Mata2 yang polos dan ceria. Mata2 burung2 yg dilihatnya tadi pagi.

Setelah selesai dengan gambarnya, Miranda merasa perutnya sakit sekali. Ohya, aku kan belum makan sejak siang tadi, pikirnya setelah sibuk mengingat2.

Mama tidak ada dirumah waktu dia pulang dari sekolah. Dan kesempatan itu digunakan Miranda untuk langsung masuk kamar dan mengerjakan gambar burung2 yg sejak pagi sudah menempel dibenaknya. Coba ada Mama, wah, dia harus cuci muka dulu, harus tukar sergam, harus makan siang dan bobo. Nah, kalau udah gitu, kapan gambarnya?

Kata bibi sih, Mama kerumah sebelah. Mereka dapat tetangga baru sebulan yg lalu, keluarga Husein pindah ke kota lain. Pantesan sejak kemaren, rumah sebelah ribut banget, kata Miranda dalam hati sambil membawa piringnya ke halaman belakang. Enak makan disitu, sebab udaranya nyaman betul. Bayang2 matahari terbias dari balik daun2 pohon mangga yang ada disitu. Miranda makan di kursi goyang tua kesayangannya.

Sembari mengunyah, Miranda memandang bulatan2 awan dengan asyiknya. Gumpalan2 meja itu seakan2 membentuk bermacam2 benda yang bercampur2 dengan imajinasi Miranda sendiri. Enaknya kalau bisa duduk diatas sana, khayalnya. Tak ada yang menganggu, tidak ada orang lain yg bertanya sana sini, dan aku boleh memilih seluruh waktu untuk diriku sendiri. Aku boleh menggambar sepuas-puasnya... Hmm...

"Mira!! astaga, kok kamu baru makan sekarang?"

Terpelanting semua angan2 Miranda mendengar suara Mama yang keras. Piringnya hampir sajah jatuh kalau dia tak cepat2 memegangnya. Uh, kenapa sih Mama paling seneng ngagetin orang. Apa nggak bisa lihat orang lagi seneng ya?

"Lho, kok malah bengong. Ayo, makannya disini. Jangan diluar. Lho, lho, baju seragam juga belum diganti? Aduh ni anak...kalo Mama ngga ada sebentar aja udah gak teratur begitu sih..." omel Mama panjang lebar.

Miranda berdiri dengan muka merah. Dimarahin sama Mama sih udah makanan setiap hari, tapi kalo diomelin didepan orang lain mah, ... laen cerita deh...duh.

Miranda baru melihat kalau Mama tidak datang sendiri. Dibelakangnya ada seorang anak muda yg tengah mengulum senyum. Semakin merah muka Miranda, tapi kali ini bercampur dongkol melihat senyum geli cowo itu.

"Apa kamu gak malu sama nak Soni ini? Udah gede koq kelakuan masih kayak anak SD aja..."

Miranda berjalan dengan cepat melewati Mama dan cowo yg bernama Soni itu. Nasinya masih bersisa banyak, tapi dia sudah tak berselera lagi untuk menghabiskannya. Kejengkelannya
pada Mama dan juga pada cowo itu, membuat perutnya kenyang tiba2. Dari dapur, didengarnya suara Mama lagi.

"Maaf ya nak Soni. Itu tuh putri tante yg paling bandel. Miranda namanya... tapi eh sebenernya dia gak bandel2 amat sih, cuma sedikit susah diatur. Tidak seperti kakaknya Mirella. Nanti tante kenalin sama Mirella ya. Atau nak Soni pernah dengar nama Mirella? kalau nak Soni suka baca.... "

Miranda mendengus2 saja dalam hati. Mulai deh promosi Mama yg sudah basi itu. Lewat pintu samping, dia masuk kamarnya lagi dan tidur2an. Darimana sih Mama punya teman muda seperti itu, tanyanya heran kemudian. Kok bisa2nya Mama pulang bareng2 cowo itu. Wah, jangan2...hihi... Miranda tertawa sendiri dan kemudian menutup matanya. Beberapa menit kemudian, dia sudah tertidur tanpa mengganti baju seragamnya.

keesokkan harinya....pada satu siang...

Dengan lincah, Miranda memanjat pohon mangga kesayangannya. Mumpung Mama lagi nggak ada dirumah dan Mirella lagi latihan jalan, dia bisa sepuas2nya beraksi tanpa diberi 'khotbah' oleh mereka. Pohon itu memang tengah berbuah lebat sekali tetapi Miranda tak pernah suka dengan buah mangga. Aneh memang. Tapi Miranda menyukai pohon itu. Bukan karena dia suka buah mangga, tapi karena pohon itu punya cabang2 yg asyik banget buat dijadikan tempat tongkrongan.

Setelah bertengger dengan aman di salah satu cabang, Miranda mengeluarkan notes gambarnya berikut pensilnya. Dia sudah sejak lama punya niat mau menggambar gumpalan2 putih dan biru diatas sana. Baru sekarang dia punya kesempatan untuk mengabadikannya dari tempat yang paling sip.

Berkali2 kepala Miranda mendongak, lalu menunduk kembali pada kertasnya. Begitu tekunnya dia, sampai tidak sadar bahwa ada sepasang mata memperhatikannya dengan penuh perhatian dan bibir mengulum senyum. Sudah lama juga dia di situ, tetapi tidak menegur Miranda yang masih dengan enaknya nongkrong di atas. Dia tak ingin menggangu pekerjaan gadis manis itu.

Miranda menarik napas lega. Mega2 itu sudah dipindahkannya ke tas kertas putihnnya. Memang belum sempurna betul, sebab masih beruba sketsa saja. Tapi setidak2nya dia sudah mendapatkan momen yg dibutuhkannya. Tinggal disempurnakan sedikit lagi dan hmm...bertambah lagi koleksinya. Dengan mulut tersenyum2 seperti itu, Miranda memasukkan lagi kertasnya ke dalam satu celana monyetnya. Rasanya sudah tak sabar menyelesaikan gambarnya. Bayangkan, sudah dua minggu lebih aku kayak orang gila nungguin kesempatan seperti ini dan kini, wah wah susah memang kalau ada dua 'herder' dirumah.

Miranda sudah sampai di atas lantai lagi ketik dia hampir terjengkang ke belakang mendengar suara yg asing di telinganya.

"Ahli panjat juga ya Mir?"

Miranda terbelalak melihat cowo yg berdiri melipat tangan. Mula2 dia memang tidak bisa memberi jalan pada jalinan syaraf otaknya untuk mengingat2 siapa cowo itu. Tapi, ketika dia sekali lagi melihat senyum yang disembunyikan disudut2 bibir itu, barulah dia tahu dan ingat. Dia kan...

"Halo. Sudah ingat siapa saya kan?"

Merah padam muka Miranda. Ternyata cowo itu sudah tau apa yg sedang dipikirkannya. Dengan tangan dikepal2 dibelakang punggungnya, Miranda mengangkat dagunya tinggi2 untuk menunjukkan pada cowo itu kalo dia tidak takut sama sekali.

"Mama lagi gak ada. Kamu mau apa?" jawabnya ketus.

"Wah wah.. kamu galak juga yah Mir... kenapa? kamu takut kalau saya ngelapor ke Mama kamu kalo tadi kamu manjat pohon?" kali ini senyum cowo itu sudah jelas2 terlihat.

Miranda menatap dongkol.
"Ngadu aja! Kamu pikir saya takut? Dasar pengaduan!!" ejeknya.

Soni malah tertawa terbahak2. Miranda sudah berkacak pinggang saking keselnya, tapi Soni semakin kenceng ngakaknya. Aduh, pingin rasanya Miranda menyumpalkan sendalnya kemulut lebar itu.

"Ha ha ha...Kamu lucu banget sih Mir..."

Miranda melotot sebulat2nya. Brengsek, gerutunya. Apanya yg lucu? Apa karena aku kayak anak monyet pakai celana ini dan tadi manjat pohon?

"Saya udah bilang Mama gak ada. Nanti aja dateng lagi, sekarang pulang aja dulu..." usir Miranda tegas.

"Lho, kok malah diusir sih? Gimana kalo saya mau disini aja sambil nungguin sampai Mama kamu dateng?" tantang Soni bandel.

Miranda menarik napas jengkel. Kok bebal banget sih, pikirnya dengan sebel. Dia ingin melotot lagi biar Soni ketakutan dan akhirnya angkat kaki. Tapi melihat gayanya sih, biar mataku sudah meloncat keluar sekalian, dia pasti tetap saja enak2 duduk disitu. Ya sudahlah, gumam Miranda. Biar dia nunggu seharian di situ. Mudah2an Mama nggak pulang2, biar bulukan disitu sendirian, harap Miranda seraya memutar tubuhnya dan meninggalkan Soni tanpa mengatakan apa2 lagi.

"Hai, hei, kamu mo kemana Mir?" seru Soni kaget ditinggal tiba2.

"Tidur!' jawab Miranda pendek tanpa menoleh.

Soni tersenyum geli sendiri. Tingkah Miranda tadi memang benar2 menggelikan hatinya.

Dikamarnya, Miranda sudah memasang ancang2 untuk meneruskan gambar awan2 tadi. Diatas mejanya yg luas itu, dia sudah menggelar kertas yang baru. Dibukannya notes dan menatap sketsanya tadi. Tersenyum2 dia melihat keberhasilannya merekam momen2 yg bagus2 itu. Warna awan2 itu tidak sama. Ada yg putih, dan ada yg biru bahkan sepertinya ada yg merah karena terbias oleh warna langit yg saga. Kemudian ada burung2 kecil yang sepertinya ingin mencapai gumpalan2 itu. Ah, begitu manisnya, begitu serasinya. Terbungkuk2 Miranda menumpahkan seluruh inspirasinya.

Miranda bangkit meluruskan punggungnya. Wah, capek juga. Dia agak kaget menemukan kenyataan bahwa dia telah dua jam lebih menyelesaikan gambarnya. Dipandang2nya gambar itu. Dan huff... lega sekali rasanya melihat gambar itu lumayan juga hasilnya. Sampai beberapa menit Miranda tak puas2nya menatap hasil pekerjaannya hingga kemudian dia terdengar bunyi di perutnya.

Astaga, baru ingat. Aku kan sejak siang tadi belum makan apa2. Wah wah, pantes aja cacing2 tercinta itu sudah berontak. Segera Miranda menyimpan pekerjaannya dengan hati2 diantara kertas2 gulungan lainnya didalam lemari. Sudah bertumpuk2 banyaknya.

Setengah bersiul2, Miranda masuk dapur. Tapi dia lagi2 dikagetkan ketika melihat ada mahluk yang tak diduganya masih bercokol disitu.

"Lho??" Miranda menunjuk Soni dengan tampang bengong.

Soni berdiri setelah sebelumnya meletakkan koran yang tengah dibacanya. Tidak tampak garis kekesalan disitu, dia malah sama cerianya seperti sebelumnya.

"Udah bobonya?"

Kembali Miranda merona pipinya. Dia kan tidak tidur dan pasti tampangnya tidak menunjukkan itu.

"Kok kamu masih disini sih? Mama kan belum pulang?"

"Ngga papa. kan saya udah bilang, saya mau nungguin mama kamu, soalnya penting.."

Miranda mengerutkan keningnya.

"Soal apa sih? Apa nggak bisa ninggalin pesen?"

"Nggak. Harus ketemu langsung Mir. Soalnya ini juga pesen dari Mama saya kok.."

"Mama kamu temen Mama saya?" tanya Miranda bego.

Soni tersenyum mengangguk. "He eh, rumah kita kan sebelahan neng. Kalau mereka bisa sahabatan, kita bisa juga dong ya?"

Miranda melengak terkejut. Tapi Soni sudah mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar. Matanya berbinar2 lucu. Miranda menelan ludahnya dengan susah payah. Sebenarnya dia tidak biasa berteman dengan cowo yg baru seperti Soni, tetapi entah kenapa dia pun tak bisa mencegah tangannya untuk tidak menyambut uluran tangan cowo itu.

"Nah, gitu dong Mir. Jadinya kan kamu gak galak2 lagi ke saya..." kata Soni menggodanya.

Miranda tersipu malu mendengar godaan sahabat barunya itu.

"Tadi kamu gak tidur kan?" tanya Soni lagi.

Miranda menggeleng. Soni tersenyum2. Tepat juga tebakanku, bisiknya.

"Terus ngapain dong?" tanya Soni sambil memandangnya lucu.

Miranda menggeleng-geleng lagi. Dia tidak akan memberitahu Soni apa yang dikerjakanya, sebab apa yang dilakukannya hanya untuk dirinya sendiri. Tak usah orang lain tahu...

"Ngg...saya mau ke dapur. Kamu mau ikut?" katanya mengalihkan perhatian Soni. Cowo itu seperti mengerti maksud Miranda dan tidak meneruskan pertanyaannya tadi.

"Boleh. Kenapa?"

"Saya laper." kata Miranda polos.

Soni tertawa halus dan mengikuti Miranda dari belakang. Disana dengan sepiring bolu dan ice cream simpanan Mama, Miranda dan Soni menjalin persahabatan mereka yang baru.

beberapa hari kemudian....

"Mira!!" teriak Mama kencang2. Miranda cepat2 menyingkirkan pensil gambarnya. Dibukanya pintu kamar...

"Ya Mama..."

"Aduh gimana sih kamu? Masa dikamar terus. Itu nak Soni udah nungguin kamu dari tadi. Katanya ada janji mau beli buku. Janji kok disembarangi sih?" omel Mama.

Miranda menepuk jidatnya sendiri. Astaganaga. Kok dia bisa lupa sendiri sih? Oh iya, dia kan kemarin sudah janjian dengan Soni mau cari buku2 sama2. Soni mau cari buku kuliahnya sementara dia mau beli buku tentang cara menggambar yg baik.

"Ya ya Ma. Mira lupa. Mira ganti baju dulu Ma.."

"Lupa, lupa. Kecil2 udah pikun.. ya udah cepet sana ganti baju. Kalau nak Soni ngelapor ke Mamanya, kan Mama yang malu punya anak gadis yang udah pikun begini..." omel Mama lagi.

Miranda tak mendengar lagi omelan Mama, dia sudah sibuk mengganti dasternya dengan jeans kesayangannya.

Ketika dia ke ruang tamu, dia melihat Soni tengah asyik ngobrol dengan Mirella. Mereka begitu serunya ngobrol sampai tidak melihat kehadirannya disitu. Miranda sudah cemberut sendirian. Uh, katanya kesel nungguin, tapi kok kayaknya malah seneng2 gitu sih? Dia berdiri sambil melipat tangan, menunggu sampai dua orang itu sadar kalo ada dia sedang menanti mereka dengan kesal.

Tapi ternyata sampai hampir keriting rasanya Miranda berdiri menunggu disana. Soni dan Mirella kok nggak sadar2 juga. Gadis manis yg pemalu itu jadi kesel sendiri dan akhirnya mengeluarkan deheman yang cukup keras. Nah, barulah dua kepala itu berputar menoleh kearahnya. Miranda cepat2 menyimpan kekesalannya ketika Soni bangkit menyambutnya.

"Hei Mir. Kirain gak jadi perginya. Saya kan udah lama nungguin kamu." kata Soni dengan senyum manisnya. Ah, masa sih? ejek Miranda dalam hati. Kok kayaknya kamu malah lebih seneng kalo gak jadi pergi sekalian.

"Iya Mir. Soni udah lama nungguin, kataya mau beli buku sama2 ya? Gue tadi nitip juga, boleh kan Mir?" sambung Mirella ikut2an tersenyum.

Miranda melirik kakakya dengan heran. Kok Ella masih dirumah sih, biasanya kan udah sibuk latihan jam segini. Uh pasti deh keganjenan sama Soni, pikir Miranda mencemooh. Mentang2 Soni cakep...

"Jadi nih perginya?" Miranda tak mampu mencegah sikap sinisnya itu.

Soni maju lagi beberapa langkah. Setelah dua bulan lebih bersahabat dengan Miranda, dia sudah cukup banyak mengenal gadis yang agak pendiam itu. Walaupun Miranda adik seorang foto model yg ngetop, tapi dia tidak kelihatan menikmati juga keadaan itu. Miranda jarang sekali keluar rumah dan tampaknya lebih suka hinggap di pohon mangganya itu.

"Jadi dong Mir. Kan udah janji dari kemaren. Yuk deh kita pegi..."

Mirella mengedipkan matanya pada Miranda seakan2 memberi tanda, tapi gadis itu sudah melengos pergi. Dia masih kesel pada Mirella yg sepertinya lagi 'usaha' ngedeketin Soni. Masa sih sahabatku satu2nya mau direbut juga, gerutunya dongkol.

Di mobil, Miranda tutup mulut terus. Soni sesekali melirik dan dia mengerti kenapa Miranda cemberut seperti itu.

"Kamu mo beli buku apa Mir?"

Miranda membuang muka keluar jendela mobil. Ditariknya napas panjang2 sebelum menjawab pertanyaan Soni.

"Ada aja."

Soni tersenyum geli, memutar kemudianya kearah jalan menuju toko buku itu. Miranda memanyunkan mulutnya, dan lalu...

Soni tak tahan lagi untuk tidak tertawa.

"Apaan sih. Nggak lucu!"

"Ha ha ha...lucu!! " bantah Soni.

"Apa yg lucu?"

"Kamu Mir! kamu tuch lucu banget. kata Soni menunjuk Miranda.

Gadis itu semakin sewot saja. Dilipatnya tangan diatas dada.

"Aduh aduh... sorry Mir. Saya bukan mau ngetawain kamu koq. Tapi, tapi saya suka banget ngeliat kamu kayak gitu, lucuuu banget..." Soni setengah mati berusaha menahan tawanya lagi.

Miranda menatap Soni tajam2. Sebenarnya dia sudah nggak kesel lagi, tapi kalo dia ikut2an senyum, gengsi juga.

"Lucu, emangnya saya badut?"

"Nggak, kamu gak badut, tapi Miranda yg manis dan lucu..." kata Soni mengulang2. Miranda menyimpan senyumnnya lagi. Dia senang juga dikatakan manis, sebab biasanya dia cuma mendengar pujian seperti itu utk Mirella. Dia sendiri tak pernah dikatakan Miranda yg manis oleh Mama, selalu Miranda yg bandel, yang nakan dan susah diatus.

"Kalau Miranda manis, beliin ice cream dong" katanya membalas. Soni terbelalak lalu tertawa2 lagi. Sekejab kemudian mereka sudah berbaikan kembali.

Setelah selesai membeli buku, Soni betul2 membawa Miranda membeli ice cream. Mereka berdua duduk2 santai, dan Miranda senang karena mereka menemukan tempat di sudut, sebab dengan demikian, dia bisa memandang kemana2. Lewat jendela kaca yg lebar sekali itu, dia bisa melihat orang2 yg jalan hilir mudik.

"Hei, ngelamun terus nih anak. Mir, mau ice cream apa?" tanya SOni menepuk punggung tangan Miranda.

Sejenak Miranda terbengong tapi akhirnya tersenyum manis sambil menunjuk menu.

"Nih aja deh, biar banyakan." katanya tersenyum lebar.

"Nggak takut ndut nih?" goda Soni sambil mengerling. Gadis itu menggeleng2 kan kepalanya.

"Emangnya Ella." balasnya singkat.

Mirella memang paling repot kalau lagi makan. Kadang2 Miranda kasihan juga ngelihat kakaknya itu ngak bisa macam2 kalau lagi kepingin makan sesuatu. Selalu saja ingat dietnya, atau kalau dia lagi ngebet makan apa itu, eh giliran Mama yg cerewet ngingetin. Untunglah jadi aku yg tak perlu diet macam2, bisik Miranda.

"Iya deh, eh Mir, saya ke belakang dulu ya. Kamu jangan kemana2 ya...ntar ilang." pesan Soni wanti2.

Miranda menjulurkan lidahnya sebel dianggap seperti anak kecil. Memangnya gue gak tau jalanan pulang, gerutunya dalam hati. Tapi kekesalannya kemudian luntur ketika dia asyik melihat orang2 yg tengah sibuk belanja diluar restoran. Dan tiba2 dia mendapat ilham sendiri. Untunglah dia selalu membawa notes gambarnya kemana2.

Soni berjalan dengan santai menuju meja tempat dia dan Miranda tadi duduk. Dia selalu merasa geli setiap kali dekat Miranda dan suka sekali melihat gadis yg suka berubah2 itu. Gadis yg polos, manis dan sederhana, pikirnya. Dan sekarang gadis itu tengah membungkuk dengan tekunnya lalu memandang keluar lagi. Begitu asyiknya dia, sampai tidak menyentuh sama sekali gelas ice-cream itu.

Niat Soni untuk mengejutkan gadis itu batal, karena ketik dia memanjagkan lehernya untuk melihat apa yg dikerjakan Miranda, dia terheran2 berampur kagum sendiri. Digeleng2kan nya kepalanya. Jadi ini toh yg disembunyikan Miranda selama ini, bisiknya. Bukan main.

Soni berbalik menuju etalase yang memajang kue2. Dipilihnya beberapa potong dan membawanya ke meja mereka. Miranda melihatnya dan segera menyembunyikan notesnya ke dalam tas. Soni pura2 tidak melihat.

"Lho. Kok esnya gak dimakan? udah cair tuh.."

"oh iya...hampir lupa..." seru Miranda lalu segera menyondok ice-creamnya dengan penuh semangat. Soni menunduk sedikit untuk menyembunyikan rasa gelinya. Miranda..Miranda... katanya dalam hati.

(bersambung...)

17 Comments:

Blogger The Dreamer said...

Bagus koQ ini sis ceritanya ^^ Miranda ama Ella.. ;)... ama Soni.. *humm* bakal dibikin complicated gaQ tuh antara itu 3 ?? ^^

9:34 PM  
Blogger The Dreamer said...

kayanya tadi siang dah komen cuman ilank yah.. :D

hmmm ceritanya bagus neh sis ^^ heihueeuh ayo teruskan teruskan :)

4:33 AM  
Blogger Shenny said...

test ah... hihi

10:01 AM  
Anonymous Anonymous said...

L3L1: Hm.. Rencananya bakalan brapa seri neh? Ngingetin g mah cici g neh, tp g ga ky miranda yg pemalu n pendiem itu.. Hehe lagian g plg bego kalo urusan gambar menggambar :p

sweetie83: haii hani baniiii muachhh senangnyaa dia nulis lagiii
asikk ada bacaan summer
hehoeheoheoehee miss yuuuu muachhh

3:01 PM  
Blogger sista said...

bagus bagus hehehe top abies.. seru.. hehe ayo lanjutin.. engga sabar nunggu lanjutannya hehe..

2:26 AM  
Blogger tR!s said...

wahhh.. bagus bagus.. hehehe.. asikkkk ada bahan bacaan lagi hehehe... *nunguin lanjutannya

7:40 PM  
Blogger Monic said...

AAAARRRRGGGGGG
I always love ur writing!!!
aku ada permintaan nih, jangan lama-lama yah bikin lanjutannya :P

2:51 AM  
Blogger Delfinizer said...

huaaa shennyyy ! akhirnya ada juga yg baru critanya ! heheheh anyway mau dong chapter trakhir CM ! Hehehhee

4:44 AM  
Blogger mee said...

heuhee sayah juga suka baca2 ceritaaa. jadinya ikutan nunggu deeee *^-^*

8:10 AM  
Blogger oitbele said...

aihh.. lucu aja ini comment, ngetest jugak :P go go go shennyy!

8:11 PM  
Blogger The Dreamer said...

aduh pengen ngeprint-in cerita2nya arbei neh.. jadi berapa halaman words yah ^^;;.. ehueheuh kan enak jadi bisa dibawa kemana2 ;D..

oia bei.. ganti leyot jadi keren neh :D

10:25 AM  
Blogger Shenny said...

inex: hiihi iya nich ganti layout.. lagi iseng aja kemaren :) itu komennya wkt itu linknya beda kayaknya hehee... ke arb3i-novel trus diganti :D

L3L1: rencananya ga panjang2 koq :) hihihi loe ama cici loe mirip kayak miranda-mirella? ;)

sweetie83: hehee iya neng.. lagi iseng ajee... :P

sista: maacihh :)

tR!s: wehiehie... thx for reading yach :)

d`Anty: blog kamu dimana say? :) mau donk liat

Muna: wehiehiee.... cerita ecel itu udah agak2 basi kalo mo diterusin hohoo :P

yume: hehee makacih ya :P

sibele: hehee iya lucu komennya blogger :P

gretan: heheee kayaknya tebakannya bakal salah deh :P hihihi Miranda? anak SMA...guess aja berapa umurnya ;p

Decky: wahh halloo!! what a surprise nich heeehehe :P kemana aja?

11:30 AM  
Blogger Shenny said...

marin: hehehee gpp koq ;) thanks yah uda baca... gimana kabarnya?

andhika: hehee akhirnya kebaca juga yah neng :P uda ga sibuk kan? hm Miranda kayak dirimu nich? wa wa wa... ;) *winks

8:32 PM  
Blogger Dee said...

hello...nice story :)

1:19 PM  
Anonymous Anonymous said...

wah mungkin gw paling telat baca...tp gpp lah..nice story shenn...sekarang gw mo lanjut baca yang kedua..^^

10:35 PM  
Blogger Shenny said...

dee: thanks ;)

Anonymous: thanks udah baca... ini sapa yah? hehee... ga ada namanya :P

4:12 PM  
Anonymous Anonymous said...

waaa... critanyaaa kereenn... ^_^
lucu shen.... liat lanjutannya aahh...

5:00 PM  

Post a Comment

<< Home