Cerita Mereka II (ending part 1)
cerita sebelumnya...
Dengan tatapan matanya yg sayu, dia pun berjalan menjauhiku. Ada satu luka yg teramat dalam yg terpancar dimatanya, namun pada saat yg sama aku tau dia benar2 iklas melepaskanku untuk selamanya.
Pada saat yg bersamaan pula, sepertinya hatiku pun ingin menjerit pilu...
Kututup wajahku dengan kedua tanganku, sambil duduk menunduk menahan semuanya.
Dan selama kurang lebih duapuluh menitan aku terdiam terpaku di lobby itu, hanya duduk dengan hati yg kacau balau, menahan rasa kesal dan perih. Rasanya, masih terngiang2 semua perkataan Josh barusan itu, membuat rasa bersalah dihatiku ini jadi semakin mendalam. Terbayang2 sosok Rio yg pergi berjalan sebelum sempat mengucapkan apapun itu yg perlu diucapkan padanya.
Lalu tiba-tiba saja, ada satu tangan menyentuh pundakku......
"non."
Kuangkat kepalaku dengan berat hati, dan terlihatlah sekilas wajah pemuda yg menyapaku itu, dia tersenyum begitu penuh perhatian dengan mata yg berkaca-kaca.
Dia menunduk jongkok, mengelus rambutku perlahan sambil terus menatapku dan akhirnya berkata demikian, ....
"aku ragu.....ragu apakah nanti aku bisa menemukan gadis sepertimu lagi. ragu...apakah aku bisa.... mencintai gadis lain seperti aku mencintaimu but no.... I don't wanna take that chance.. I can't afford to lose you again...."
Wajahnya yg begitu sayu, kembali menatapku lagi. Rio, cowo yg selama ini selalu membuat detak jantungku bergetar lebih cepat lagi. Rio yg selama ini juga menjadi duri dalam hubunganku dengan Josh, pacarku yg baru saja merelakanku pergi dari sisinya....
-------------
Peristiwa itu sepertinya masih hangat dalam ingatanku.
Dan sekarang, 5 tahun kemudian....
"ella!"
Suara itu memanggilku dari kejauhan. Sambil melambai2kan tangannya, cewe manis berpakaian sporty itu berlari mendekatiku. Hampir 1 jam sudah aku sampai di kota ini. The J-Town. Panas, sesak, hiruk pikuknya airport, tak mengurangi rasa rinduku utk cepat2 tiba disini.
"Aduhhh adek gue tambah keren ajaaa...." sambil cipika-cipiki. Tiana, kakakku satu2nya itu tau2 muncul dihadapanku.
"Heyyy...loe juga..langsing banget!!! jadi cakep bangeth sih sekarang! si Dre mana?" kamipun berpelukkan erat.
"Hahaha...si Dre gak bisa ikutan jemput, ada rapat mendadak tadi dikantornya. Yuk yuk...itu supirnya udah nunggu dari tadi...."
Tiana, kakakku yg paling sulung itu udah 4 tahun belakangan ini tinggal di Indonesia. Kami berdua memang sejak dulu sangat akrab, karena memang jarak umur kami yg hanya terpaut 2 tahun. Dan karena Dre, suaminya punya bisnis di Jakarta, akhirnya mereka sekeluarga memilih untuk pindah tinggal disini.
"Gimana..capek gak...bisa tidur gak di pesawat?"
"Gak koq.. gue bobo mulu di pesawat...hahaa... udah bosen duduk nichh..." jawabku santai, lalu kami berdua berjalan menuju parkiran.
Sekitar 1/2 jam kemudian, mobil itu berhenti didepan satu pos hansip, di daerah kawasan Villa Kintamani.
"Selamat siang 'bu..." hansip diluar menyapa Tiana sambil membungkukkan badannya sedikit. Hmm ramah juga..
"Siang pak Harun... ini abis menjemput adik saya dari LA pak...." balas kakakku sambil ikut tersenyum ramah.
"Ohhhh...iya...mariii...."
"Marii pak..." balas kami berdua.
Setibanya di satu rumah yg sangat, amat sangat besar itu, aku pun terheran2. Ternyata Dre, suaminya pintar memilih dan mengatur rumah tempat tinggal mereka itu.
"Nahh ini kamar loe La... udah gih beberes dulu, bongkar koper..." ucapnya sambil tersenyum menepuk pundakku.
"OK... gue beberes bentar, trus kita rumpi lagi deh...hehehe..."
"hahaa... ya udah, terserah..eh iya, buruan siap2 gih...ntar malem ikut gue, kita partyyyy....."
"Hah? baru juga mendarat, masa udah langsung party sih malemnya?" tanyaku bingung.
Tiana mengerling nakal sambil buru2 mengangkut koper2ku masuk kedalam kamar.
"Eh iya Na... Icha mana? sama si Dre?"
"Engga lah... dia lagi mana bisa jagain icha sendirian hehee bisa jumpalitan dia ntar hahaa... icha lagi dipinjem ama mertua gue... nginep sana, biar besok pagi aja dijemput…" jawabnya sambil tersenyum2 misterius.
Setelah membantuku membongkar koper2ku, semua oleh2 dan titipannya sudah sampai ditangannya. Tiana pun beranjak dari kamarku, menunggu adiknya ini mandi2 dulu. Panas banget sih Jakarta… gumamku resah. 20 jam di pesawat memang membuat orang kucel berats. Lepek dan gerah rasanya kalo gak langsung mandi2 dulu.
20 menitan kemudian, setelah ganti2 baju dan dandan sedikit, intercom dikamarku berkedip2.
"La...angkat donggg..." teriak Tiana dari ujung sana. Sedikit ragu2, kupencet tombol 'talk' disana, sambil menjawab, "ya?"
"Buru gih turun...udah cantik kan?" tanyanya lucu. Masih sedikit misterius, tapi berhubung dia langsung bilang, "gue tunggu dibawah. buruuu..." Klik. Lalu kututup intercom itu sambil meneruskan ganti baju dan dandan semestinya.
Buru2 kujalan keluar kamar, sambil agak sedikit bingung kenapa suara Tiana tadi terdengar begitu antusias, seperti ada yg disembunyikan.
"naaahh...tu dia.... sini sini...." panggil Tiana sambil melambai2kan tangannya kesenengan. Aneh, kenapa sih girang betul?
Tamunya menoleh kearahku. Seorang cowo cukup ganteng, kayaknya baru pertama kali nich liat temen Tiana yg ini. Siapa sih?
"Tuhhh 'za, kenalin adek gue...baru dateng nih dari LA...." kata Tiana sambil sedikit menarikku duduk disebelahnya.
Cowo itu tersenyum ramah melihatku, lalu berdiri dan kamipun bersalaman.
"Reza." katanya singkat. Senyumannya cukup simpatik. Dan benar dugaanku, anaknya lebih tinggi dari yg kubayangkan. Atletis, tinggi, kacamata-an. Hmm dari gaya2nya sepertinya dia teman si Dre.. bertampang eksekutif muda *winks*
"Grachella" jawabku sambil membalas uluran tangannya.
"Inih 'La... temen sekampusnya si Dre dulu di Boston. Baru pindah juga ke Jakarta 3 bulanan yg lalu, sekarang buka company advertising di daerah kuningan sana..." sambung Tiana sambil tersenyum berbinar2.
Aneh,.. kenapa tiba2 pake acara kenal2an segala? hmm jangan jangan....
"Gimana 'La.. masih jetlag gak?" Reza mencoba memulai pembicaraan ketika tiba2 Tiana meninggalkan kami berdua untuk mengambil minuman utk Reza.
"hehe.. mayan sih, tapi ok lah, soalnya di pesawat bobo mulu..."
Setelah sekitar 10 menitan Tiana gak balik2 membawa minuman, aku pun mulai berasa canggung berduaan saja sama tamu ini.
"Bentar ya 'za... kakak gue bikin minuman aja seabad nich!" kataku mencoba melucu. Reza tersenyum geli.
Hm anaknya lumayan talkative juga sih, cuma lagi males nge-basi ah... gak lucu masa tiba2 ditinggal gitu aja. si Tiana gimana sih... pikirku jengkel.
Sementara itu di dapur, terlihat Tiana sedang duduk2 dengan santai sambil membolak-balikkan satu buku resep..
"Ehhh! kok ninggalin gue gitu sih..." ujarku sambil menepuk pundak kakakku itu. Yang ditepuk malah ketawa cengar cengir...
"hehehehee....gimana gimana.... he's one of the most eligible bachelor in Jakarta tuh!! sikatttt!! hahahaa... anaknya baeee banget, mama aja udah setuju tuhh!"
"Hah? kok mama? emang mama pernah ketemu?? ck ck ...gile lu yeee.... apaan sihh!!" balasku sambil mengambil satu majalah disitu untuk menepak lengan Tiana dengan gemas.
"Oucchh... duhhh hahaaha iyaaaa...mama pernah ketemu wkt itu pas loe gak ikutan liburan ke Jakarta dec lalu! hehee.. makanya gue udah bilang ke Dre, biar bisa pas gituuu kalo dia balik sini, loe pas disini :P nahh skrg kan pas banget tuh.. dia juga udah forgood tuch disini...padahal greencard tuh dia... jadi yah gitu deh bolak balikk... kali aja ntar loe balik LA, doi bisa anterinn hehee"
Astaga. Ternyata Tiana udah punya rencana sendiri, menjodohkanku dengan Reza.
Aku terdiam saja mendengarnya mencerocos dengan semangat.
"Ntar malem kita pegi dehh... biar kenalan gitu ama doi. mayan kan anaknya? talkative juga kan?"
"Na... jangan dehh... gue ga siap."
"Ga siap apaan? kenalan aja ga papa donk? lagian emang loe masih mo nungguin si Rio? sampe kapan La??? anaknya sekarang dimana juga loe ga tau kan?"
Rio.
Cinta pertamaku yg ternyata setelah sekian tahun ternyata masih nyata hadirnya dalam hatiku. Selalu ada getaran tiap kali kudengar namanya disebut. Selalu. Hmphhff..
Ngga lama kemudian, kami berdua mendengar suara Dre, suami Tiana, memanggil2 istrinya untuk keluar. Ternyata dua mahluk cowo itu sudah lama berbincang2 sambil bingung kenapa bisa ada tamu tau2 ditinggal begitu saja oleh yg punya rumah.
"ehh udah dateng si non!" sapa Dre sambil menyambutku, peluk cium pipi kanan kiri.
"wahh makin cantik aja dd ipar guee..." lanjutnya lagi. Dipeluknya Tiana, sambil mencium pipi kanannya lembut. "hai sayang... dari mana sih kamu?"
Tiana tersenyum malu2, dilihatnya Reza yg duduk sambil senyum cengar-cengir malu. Bingung juga kali yee.. masa udah lama bertamu dari tadi, ditinggal gitu aja sendirian hahaa..
"Nahh sekarang kita mo ngapain nih? laperrr... pegi makan aja yuk!" ajak Dre sambil menoleh kearah istrinya, ke Reza lalu terakhir bertanya padaku, "nahh ini nona besar pengen makan apa hari ini? masakan indo? kangen makan apa?" tanyanya bertubi2.
Reza melirik kearahku sambil tersenyum. "Pasti kangen masakan indo yah La...udah lama gak pulang kan?"
"hehee apa aja boleh dehh... laper juga nih" balasku singkat sambil sedikit melotot kearah Dre yg tersenyum2 bandel.
Singkat kata singkat cerita, malam itu kami berempat pergi makan di Sari Kuring, memesan segala macam seafood yang enak2. Dan entah gimana, sejak malam itu, Reza jadi rajin menemaniku berkeliling di Jakarta, sampai suatu hari dia mengajakku melihat2 kantor barunya.
Kata Tiana sih memang Reza baru pindah kantor, dan bakalan ada satu tamu agung yg nantinya bakal jadi partner kerjanya Reza mulai minggu depan.
"Minggu depan pesta peresmiannya 'La... kamu bisa dateng kan?" tanya Reza sore itu.
Reza tau, 3 minggu masih terlalu singkat untuk bisa mengambil keputusan bahwa dia menyukai gadis manis, lembut yg keliatannya mandiri itu. Persis cocok seperti tipenya sih.. cuma peristiwa Januari lalu itu belum lepas dari ingatannya. Mungkin separuh dari hatinya masih tertambat di Lora, bekas pacarnya yg meninggal mendadak akibat kecelakaan mobil.
"Hmm ya bisa lah 'za..." jawabku sambil mendecak kagum melihat design ruangan kerja Reza yg begitu luar biasa indahnya. Ruangan yg cukup luas untuk dibuat 4 kamar kerja itu digabung jadi satu ruangan untuk Reza sebagai CEOnya.
Reza tersenyum happy sekali. Dituntunnya lengan Ella keluar dari ruangan kerjanya..
"nahh yg itu tuch bakalan buat partner gue... dia sekarang masih di Seoul, tepatnya si Jeju Island... hehehe..."
"Jeju Island? bukannya itu tempat buat honeymoon yah?" tanyaku polos. "Seingatku sih, dari nonton film2 drama korea, biasanya Jeju Island tuch ya buat jalan2, vacation atao hanimun gitu deh..."
"hehee gak tau juga.. tapi dia kan businessman gitu... jadi ada proyeknya sendiri kali sama salah satu client di Korea sana.. " jawab Reza singkat sambil tersenyum bingung.
Seminggu kemudian...
"Ella....!" teriak Reza memanggilku.
Aku baru saja 5 menit sampai di gedung pertemuan ini. Wah, megah banget pestanya... dasar orang2 indo.. pesta grand openingnya bisa sampe beribu2 orang ginih, pikirku dalam hati.
Cowo tinggi berkacamata itu menghampiriku, peluk cipika cipiki, lalu menggandengku untuk duduk disalah satu meja khusus executive yg berada agak depanan. Ada beberapa pasangan yg udah duduk disana... beberapa dari mereka memandangku dengan tatapan curiga.
"Eh guys.. kenalin nich, Ella.. everybody, this is Ella, ... La, everybody." kata Reza secara cepat memperkenalkan nama2 mereka masing2.
Masih ada sekitar 4 bangku kosong dimeja itu, 2 untuk aku dan Reza, dan ...
"Hey 'za!" suara itu menyapa dari belakang lalu berjalan menghampiri meja kami.
Aku yg hanya duduk tanpa menoleh kebelakang, hanya bisa duduk tersenyum2 saja.
Reza bangkit lalu membalas balik sapaan dari orang yg memanggilnya itu.
"Ehhh!! gilaaa.. katanya blon tentu bisa malem ini! hahaha.. gimana Jeju Island?... ayo ayo.... sini sini duduk sini dehh..."
Begitu cowo itu mengambil posisi disebelah kiri Reza, aku pun menoleh kearahnya….
*DEG.*
Jantungku berenti. Sambil mendesis pelan, ya Tuhan....?
Wajah cowo tampan yg sudah tidak asing lagi tersenyum sambil mencoba menahan rasa kagetnya itu…
Is that ….. ?
(bersambung.. hihi.. kepanjangan nih, jadi dibagi dua yaaa...)
Dengan tatapan matanya yg sayu, dia pun berjalan menjauhiku. Ada satu luka yg teramat dalam yg terpancar dimatanya, namun pada saat yg sama aku tau dia benar2 iklas melepaskanku untuk selamanya.
Pada saat yg bersamaan pula, sepertinya hatiku pun ingin menjerit pilu...
Kututup wajahku dengan kedua tanganku, sambil duduk menunduk menahan semuanya.
Dan selama kurang lebih duapuluh menitan aku terdiam terpaku di lobby itu, hanya duduk dengan hati yg kacau balau, menahan rasa kesal dan perih. Rasanya, masih terngiang2 semua perkataan Josh barusan itu, membuat rasa bersalah dihatiku ini jadi semakin mendalam. Terbayang2 sosok Rio yg pergi berjalan sebelum sempat mengucapkan apapun itu yg perlu diucapkan padanya.
Lalu tiba-tiba saja, ada satu tangan menyentuh pundakku......
"non."
Kuangkat kepalaku dengan berat hati, dan terlihatlah sekilas wajah pemuda yg menyapaku itu, dia tersenyum begitu penuh perhatian dengan mata yg berkaca-kaca.
Dia menunduk jongkok, mengelus rambutku perlahan sambil terus menatapku dan akhirnya berkata demikian, ....
"aku ragu.....ragu apakah nanti aku bisa menemukan gadis sepertimu lagi. ragu...apakah aku bisa.... mencintai gadis lain seperti aku mencintaimu but no.... I don't wanna take that chance.. I can't afford to lose you again...."
Wajahnya yg begitu sayu, kembali menatapku lagi. Rio, cowo yg selama ini selalu membuat detak jantungku bergetar lebih cepat lagi. Rio yg selama ini juga menjadi duri dalam hubunganku dengan Josh, pacarku yg baru saja merelakanku pergi dari sisinya....
-------------
Peristiwa itu sepertinya masih hangat dalam ingatanku.
Dan sekarang, 5 tahun kemudian....
"ella!"
Suara itu memanggilku dari kejauhan. Sambil melambai2kan tangannya, cewe manis berpakaian sporty itu berlari mendekatiku. Hampir 1 jam sudah aku sampai di kota ini. The J-Town. Panas, sesak, hiruk pikuknya airport, tak mengurangi rasa rinduku utk cepat2 tiba disini.
"Aduhhh adek gue tambah keren ajaaa...." sambil cipika-cipiki. Tiana, kakakku satu2nya itu tau2 muncul dihadapanku.
"Heyyy...loe juga..langsing banget!!! jadi cakep bangeth sih sekarang! si Dre mana?" kamipun berpelukkan erat.
"Hahaha...si Dre gak bisa ikutan jemput, ada rapat mendadak tadi dikantornya. Yuk yuk...itu supirnya udah nunggu dari tadi...."
Tiana, kakakku yg paling sulung itu udah 4 tahun belakangan ini tinggal di Indonesia. Kami berdua memang sejak dulu sangat akrab, karena memang jarak umur kami yg hanya terpaut 2 tahun. Dan karena Dre, suaminya punya bisnis di Jakarta, akhirnya mereka sekeluarga memilih untuk pindah tinggal disini.
"Gimana..capek gak...bisa tidur gak di pesawat?"
"Gak koq.. gue bobo mulu di pesawat...hahaa... udah bosen duduk nichh..." jawabku santai, lalu kami berdua berjalan menuju parkiran.
Sekitar 1/2 jam kemudian, mobil itu berhenti didepan satu pos hansip, di daerah kawasan Villa Kintamani.
"Selamat siang 'bu..." hansip diluar menyapa Tiana sambil membungkukkan badannya sedikit. Hmm ramah juga..
"Siang pak Harun... ini abis menjemput adik saya dari LA pak...." balas kakakku sambil ikut tersenyum ramah.
"Ohhhh...iya...mariii...."
"Marii pak..." balas kami berdua.
Setibanya di satu rumah yg sangat, amat sangat besar itu, aku pun terheran2. Ternyata Dre, suaminya pintar memilih dan mengatur rumah tempat tinggal mereka itu.
"Nahh ini kamar loe La... udah gih beberes dulu, bongkar koper..." ucapnya sambil tersenyum menepuk pundakku.
"OK... gue beberes bentar, trus kita rumpi lagi deh...hehehe..."
"hahaa... ya udah, terserah..eh iya, buruan siap2 gih...ntar malem ikut gue, kita partyyyy....."
"Hah? baru juga mendarat, masa udah langsung party sih malemnya?" tanyaku bingung.
Tiana mengerling nakal sambil buru2 mengangkut koper2ku masuk kedalam kamar.
"Eh iya Na... Icha mana? sama si Dre?"
"Engga lah... dia lagi mana bisa jagain icha sendirian hehee bisa jumpalitan dia ntar hahaa... icha lagi dipinjem ama mertua gue... nginep sana, biar besok pagi aja dijemput…" jawabnya sambil tersenyum2 misterius.
Setelah membantuku membongkar koper2ku, semua oleh2 dan titipannya sudah sampai ditangannya. Tiana pun beranjak dari kamarku, menunggu adiknya ini mandi2 dulu. Panas banget sih Jakarta… gumamku resah. 20 jam di pesawat memang membuat orang kucel berats. Lepek dan gerah rasanya kalo gak langsung mandi2 dulu.
20 menitan kemudian, setelah ganti2 baju dan dandan sedikit, intercom dikamarku berkedip2.
"La...angkat donggg..." teriak Tiana dari ujung sana. Sedikit ragu2, kupencet tombol 'talk' disana, sambil menjawab, "ya?"
"Buru gih turun...udah cantik kan?" tanyanya lucu. Masih sedikit misterius, tapi berhubung dia langsung bilang, "gue tunggu dibawah. buruuu..." Klik. Lalu kututup intercom itu sambil meneruskan ganti baju dan dandan semestinya.
Buru2 kujalan keluar kamar, sambil agak sedikit bingung kenapa suara Tiana tadi terdengar begitu antusias, seperti ada yg disembunyikan.
"naaahh...tu dia.... sini sini...." panggil Tiana sambil melambai2kan tangannya kesenengan. Aneh, kenapa sih girang betul?
Tamunya menoleh kearahku. Seorang cowo cukup ganteng, kayaknya baru pertama kali nich liat temen Tiana yg ini. Siapa sih?
"Tuhhh 'za, kenalin adek gue...baru dateng nih dari LA...." kata Tiana sambil sedikit menarikku duduk disebelahnya.
Cowo itu tersenyum ramah melihatku, lalu berdiri dan kamipun bersalaman.
"Reza." katanya singkat. Senyumannya cukup simpatik. Dan benar dugaanku, anaknya lebih tinggi dari yg kubayangkan. Atletis, tinggi, kacamata-an. Hmm dari gaya2nya sepertinya dia teman si Dre.. bertampang eksekutif muda *winks*
"Grachella" jawabku sambil membalas uluran tangannya.
"Inih 'La... temen sekampusnya si Dre dulu di Boston. Baru pindah juga ke Jakarta 3 bulanan yg lalu, sekarang buka company advertising di daerah kuningan sana..." sambung Tiana sambil tersenyum berbinar2.
Aneh,.. kenapa tiba2 pake acara kenal2an segala? hmm jangan jangan....
"Gimana 'La.. masih jetlag gak?" Reza mencoba memulai pembicaraan ketika tiba2 Tiana meninggalkan kami berdua untuk mengambil minuman utk Reza.
"hehe.. mayan sih, tapi ok lah, soalnya di pesawat bobo mulu..."
Setelah sekitar 10 menitan Tiana gak balik2 membawa minuman, aku pun mulai berasa canggung berduaan saja sama tamu ini.
"Bentar ya 'za... kakak gue bikin minuman aja seabad nich!" kataku mencoba melucu. Reza tersenyum geli.
Hm anaknya lumayan talkative juga sih, cuma lagi males nge-basi ah... gak lucu masa tiba2 ditinggal gitu aja. si Tiana gimana sih... pikirku jengkel.
Sementara itu di dapur, terlihat Tiana sedang duduk2 dengan santai sambil membolak-balikkan satu buku resep..
"Ehhh! kok ninggalin gue gitu sih..." ujarku sambil menepuk pundak kakakku itu. Yang ditepuk malah ketawa cengar cengir...
"hehehehee....gimana gimana.... he's one of the most eligible bachelor in Jakarta tuh!! sikatttt!! hahahaa... anaknya baeee banget, mama aja udah setuju tuhh!"
"Hah? kok mama? emang mama pernah ketemu?? ck ck ...gile lu yeee.... apaan sihh!!" balasku sambil mengambil satu majalah disitu untuk menepak lengan Tiana dengan gemas.
"Oucchh... duhhh hahaaha iyaaaa...mama pernah ketemu wkt itu pas loe gak ikutan liburan ke Jakarta dec lalu! hehee.. makanya gue udah bilang ke Dre, biar bisa pas gituuu kalo dia balik sini, loe pas disini :P nahh skrg kan pas banget tuh.. dia juga udah forgood tuch disini...padahal greencard tuh dia... jadi yah gitu deh bolak balikk... kali aja ntar loe balik LA, doi bisa anterinn hehee"
Astaga. Ternyata Tiana udah punya rencana sendiri, menjodohkanku dengan Reza.
Aku terdiam saja mendengarnya mencerocos dengan semangat.
"Ntar malem kita pegi dehh... biar kenalan gitu ama doi. mayan kan anaknya? talkative juga kan?"
"Na... jangan dehh... gue ga siap."
"Ga siap apaan? kenalan aja ga papa donk? lagian emang loe masih mo nungguin si Rio? sampe kapan La??? anaknya sekarang dimana juga loe ga tau kan?"
Rio.
Cinta pertamaku yg ternyata setelah sekian tahun ternyata masih nyata hadirnya dalam hatiku. Selalu ada getaran tiap kali kudengar namanya disebut. Selalu. Hmphhff..
Ngga lama kemudian, kami berdua mendengar suara Dre, suami Tiana, memanggil2 istrinya untuk keluar. Ternyata dua mahluk cowo itu sudah lama berbincang2 sambil bingung kenapa bisa ada tamu tau2 ditinggal begitu saja oleh yg punya rumah.
"ehh udah dateng si non!" sapa Dre sambil menyambutku, peluk cium pipi kanan kiri.
"wahh makin cantik aja dd ipar guee..." lanjutnya lagi. Dipeluknya Tiana, sambil mencium pipi kanannya lembut. "hai sayang... dari mana sih kamu?"
Tiana tersenyum malu2, dilihatnya Reza yg duduk sambil senyum cengar-cengir malu. Bingung juga kali yee.. masa udah lama bertamu dari tadi, ditinggal gitu aja sendirian hahaa..
"Nahh sekarang kita mo ngapain nih? laperrr... pegi makan aja yuk!" ajak Dre sambil menoleh kearah istrinya, ke Reza lalu terakhir bertanya padaku, "nahh ini nona besar pengen makan apa hari ini? masakan indo? kangen makan apa?" tanyanya bertubi2.
Reza melirik kearahku sambil tersenyum. "Pasti kangen masakan indo yah La...udah lama gak pulang kan?"
"hehee apa aja boleh dehh... laper juga nih" balasku singkat sambil sedikit melotot kearah Dre yg tersenyum2 bandel.
Singkat kata singkat cerita, malam itu kami berempat pergi makan di Sari Kuring, memesan segala macam seafood yang enak2. Dan entah gimana, sejak malam itu, Reza jadi rajin menemaniku berkeliling di Jakarta, sampai suatu hari dia mengajakku melihat2 kantor barunya.
Kata Tiana sih memang Reza baru pindah kantor, dan bakalan ada satu tamu agung yg nantinya bakal jadi partner kerjanya Reza mulai minggu depan.
"Minggu depan pesta peresmiannya 'La... kamu bisa dateng kan?" tanya Reza sore itu.
Reza tau, 3 minggu masih terlalu singkat untuk bisa mengambil keputusan bahwa dia menyukai gadis manis, lembut yg keliatannya mandiri itu. Persis cocok seperti tipenya sih.. cuma peristiwa Januari lalu itu belum lepas dari ingatannya. Mungkin separuh dari hatinya masih tertambat di Lora, bekas pacarnya yg meninggal mendadak akibat kecelakaan mobil.
"Hmm ya bisa lah 'za..." jawabku sambil mendecak kagum melihat design ruangan kerja Reza yg begitu luar biasa indahnya. Ruangan yg cukup luas untuk dibuat 4 kamar kerja itu digabung jadi satu ruangan untuk Reza sebagai CEOnya.
Reza tersenyum happy sekali. Dituntunnya lengan Ella keluar dari ruangan kerjanya..
"nahh yg itu tuch bakalan buat partner gue... dia sekarang masih di Seoul, tepatnya si Jeju Island... hehehe..."
"Jeju Island? bukannya itu tempat buat honeymoon yah?" tanyaku polos. "Seingatku sih, dari nonton film2 drama korea, biasanya Jeju Island tuch ya buat jalan2, vacation atao hanimun gitu deh..."
"hehee gak tau juga.. tapi dia kan businessman gitu... jadi ada proyeknya sendiri kali sama salah satu client di Korea sana.. " jawab Reza singkat sambil tersenyum bingung.
Seminggu kemudian...
"Ella....!" teriak Reza memanggilku.
Aku baru saja 5 menit sampai di gedung pertemuan ini. Wah, megah banget pestanya... dasar orang2 indo.. pesta grand openingnya bisa sampe beribu2 orang ginih, pikirku dalam hati.
Cowo tinggi berkacamata itu menghampiriku, peluk cipika cipiki, lalu menggandengku untuk duduk disalah satu meja khusus executive yg berada agak depanan. Ada beberapa pasangan yg udah duduk disana... beberapa dari mereka memandangku dengan tatapan curiga.
"Eh guys.. kenalin nich, Ella.. everybody, this is Ella, ... La, everybody." kata Reza secara cepat memperkenalkan nama2 mereka masing2.
Masih ada sekitar 4 bangku kosong dimeja itu, 2 untuk aku dan Reza, dan ...
"Hey 'za!" suara itu menyapa dari belakang lalu berjalan menghampiri meja kami.
Aku yg hanya duduk tanpa menoleh kebelakang, hanya bisa duduk tersenyum2 saja.
Reza bangkit lalu membalas balik sapaan dari orang yg memanggilnya itu.
"Ehhh!! gilaaa.. katanya blon tentu bisa malem ini! hahaha.. gimana Jeju Island?... ayo ayo.... sini sini duduk sini dehh..."
Begitu cowo itu mengambil posisi disebelah kiri Reza, aku pun menoleh kearahnya….
*DEG.*
Jantungku berenti. Sambil mendesis pelan, ya Tuhan....?
Wajah cowo tampan yg sudah tidak asing lagi tersenyum sambil mencoba menahan rasa kagetnya itu…
Is that ….. ?
(bersambung.. hihi.. kepanjangan nih, jadi dibagi dua yaaa...)
