Miranda (Edisi Ketiga)
rupanya aku sudah jatuh cinta pada tuanmu...
Sambil bergumam, Miranda membelai bulu² panda yg halus itu.
Ya Panda, aku sudah jatuh cinta pada Soni.
Tapi tidak,.. aku tidak boleh meneruskan mimpi ini, Panda. Tidak boleh. Sebab tidak pantas. Tahu kan betapa hebatnya tuanmu itu? Betapa baiknya dia, betapa manisnya dan lembutnya dia. Dengan segala kehebatan yang dimilikinya, alangkah sia-sianya, alangkah malang nasibnya kalau punya pacar yg bego, yg ga bisa apa2 seperti aku. Betapa kasihannya dia nanti kalau ditertawai teman-temannya.
Miranda tersenyum pahit. Kesadaran itu membuatnya sedih, tapi juga lega. Sebab dengan demikian, dia bisa menghentikan semua mimpi gilanya itu. Dengan muka muram, ditariknya kertas gambar yang sudah hampir selesai itu. Dengan sedikit finishing touch, maka selesailah gambar yang amat disukainya itu.
Wajah Soni tampak amat lembut dan bersahabat diatas kertas putih itu. Dan memang demikian di hati Miranda. Rasa sayangnya pada Soni dia tumpahkan lewat goresan-goresan lembut pada profil wajah Soni yang tengah tersenyum. Bagaikan mengerjakan sesuatu yang amat berharga, Miranda membutuhkan beberapa hari untuk menyelesaikan gambar wajah Soni.
Bulan depan, dia akan berulang tahun. Aku akan memberikan ini sebagai kejutan untuknya. Miranda sudah merencanakan akan memberi bingkai yang manis untuk gambarnya ini. Mudah-mudahan Soni menyukainya dan akan memajangnya di dinding kamarnya. Harapan itu membuat darah Miranda berdesir kencang.
Mirella sudah memberitahu apa hadiahnya untuk Soni. Miranda tentu saja tidak punya uang sendiri untuk membelikan sebuah jam tangan cowo yang sportif seperti hadiah Mirella nanti. Sejak Mirella tahu diantara dirinya dan Soni cuma ada persahabatan, kakaknya itu semakin giat saja mendekati Soni.
Biarlah, Miranda memperjelas warna hitam di alis mata Soni. Akan lebih baik seperti itu. Soni setidak-tidaknya harus mendapatkan pacar yg seperti Ella. Mereka pasangan yg serasi dan seimbang dan pasti tidak ada yg protes atau kritik. Mama juga pasti akan bahagia sekali...
Miranda juga sudah punya tekad sendiri untuk lebih membahagiakan Mama. Apa yang dikatakan Soni di panti asuhan itu mengetuk hatinya. Ya, dia harus berbuat sesuatu juga. Misalnya, dengan lebih giat belajar. Selama ini dia ogah-ogahan belajar karena merasa tidak ada perlunya belajar giat. Toh, tidak ada yg memaksa. Tetapi sekarang, setidak-tidaknya kalau dia bisa menaikkan rangking di kelas, Mama juga pasti akan ikut senang. Siapa tau raport kali ini dia tidak usah melihat angka tujuh terlalu banyak. Ya, siapa tau..
Kalau aku belajar rain dan angka-angkaku bagus, barangkali Mama akan memberi ijin untuk mengambil les piano. Miranda memang benar-benar ingin mengikuti jejak Soni.
Miranda mendekap panda itu lagi. Dipejamkannya matanya. Dan ditengah tidurnya yang gelisah, ada tangis yg keluar tanpa suara.
keesokan harinya...
"Ikut saya yuk Mir.." ajak Soni ditelpon.
"Kemana?"
"Ke airport, jemput temen saya..."
"Ah males. Kan gue gak kenal dia.. ntar bengong dong.." elaknya.
"Kok kamu jadi suka males sih blakangan ini? kamu marah ama saya yah Mir?" tanya Soni heran.
"Eh..oh...gak koq. Gue cuma lagi males aja. Memang mo jemput sapa sih?"
Miranda menjawab dengan gugup. Memang sudah beberapa kali blakangan ini, dia selalu menolak ajakan Soni, kecuali kalau pergi ke panti asuhan. Dia tak ingin terlalu sering main bersama Soni lagi. Takut perasaannya bisa dibaca oleh Soni. Miranda ingin menata dulu hatinya, supaya dia bisa kembali berteman dengan Soni tanpa punya perasaan aneh-aneh seperti itu.
"Pokoknya temen baik saja deh. Ntar saya kenalin, kami pasti suka sama dia. Ayo dong, Mir, kita kan udah lama gak jalan sama2... lagian saya punya sesuatu untuk kamu..." bujuk Soni lagi.
Miranda jadi kewalahan dan bingung sendiri. Permintaan Soni sebenarnya sederhana saja, tapi dia takut nanti tak kuat menghadapi diri dan pesona Soni lagi. Beberapa hari ini, tanpa ketemu Soni, dia sudah bisa belajar menerima kenyataan. Belajar berbesar hati untuk tidak macam-macam lagi.
Tapi sekarang....
"Kamu mau kan? saya jemput ya?" Lalu klik, telpon sudah dimatikan oleh Soni.
Bused, mati guee.. seru Miranda. Dia mau datenggg... wah gawat..gawat..
Seperti orang yg dipanggang hidup² Miranda jejingkrakan sendiri. Dan akhirnya dia berlari mencari Bibi.
"Bi! Bi!"
"Eh..ehh Non. ada apa??" Bibi juga ikut repot, tidak mengerti kenapa nonanya ribut seperti itu.
"Anu..anu...ntar sayah minta tolong kalo si Soni dateng, bilang aja saya baru pergi dijemput temen yah.. bilang gitu yah Bi..." pesannya.
"Lho? kan Non gak mau kemana-mana...?"
"Iya tapi sayah udah gak mau ketemu dia. Udah gitu aja bilangnya. Bilang saya gak ada." ulang Miranda kesal karena kebegoan si Bibi.
"Iya..iya Non." kata Bibi gugup.
Dan ketik Soni benar² datang, Miranda sudah meringkuk disudut kamarnya. Jantungnya berdebar keras. Keringat mengucur di keningnya. Ya Tuhan, Miranda berdoa kencang-kencang, jangan sampai dia ngotot mau masuk juga. Miranda tahu benar sifat keras kepala Soni kalau dia menginginkan sesuatu. Miranda belum lupa beberapa waktu yg lalu Soni nunggu sampai dua jam lebih.
Miranda tak ingin menangisi lagi nasib cinta pertamanya yang ngawur itu. Dia sudah bisa melihat sisi terang dari 'jatuh cintanya' dia pada Soni. Ya, dia harus mau mengembangkan dirinya sendiri sehingga dia tak perlu minder setengah mati kalau naksir cowo. Tapi sekarang, dia belum siap untuk menghadapi 'beliau' itu.
"Non! Non!" panggil Bibi dari luar.
Miranda melotot. Lho kok manggil kenceng² gitu sih? Apa Soni sudah pergi? Ah, pasti sudah, makanya Bibi berani teriak kenceng² gitu. Miranda menarik napas lega dan tidak memperdulikan lagi dasternya yang mencang-mencong. Dibawanya panda kesayangannya itu sembari membuka pintu.
"Sudah pergi Bi? sudah bilang sayah nggak ada?" tanya Miranda. Bibi tampak pucat, Miranda jadi heran. Tapi...
"Saya belum pergi kok Mir... kan kamu ada dirumah?"
Miranda terhenyak kaget sekali. Ternyata dibelakang Bibi, Soni berdiri dengan gagahnya. Tangannya menggenggam sesuatu. Rasanya ingin sekali Miranda lenyap dari hadapan Soni saat itu juga. Apalagi setelah Soni mengedipkan matanya dengan lucu, Miranda hanya bisa tersenyum malu sambil meringis.
"Anu Non...den Soni maksa.. katanya udah janji sama Non... Jadi..." Bibi tampak merasa bersalah sekali. Miranda mengibaskan tangannya.
"Ya sudahlah. Bibi nggak salah kok."
Dengan terbungkuk-bungkuk Bibi ke belakang lagi. Soni maju menghampiri Miranda yang masih mengigit ujung telinga pandanya. Soni menarik panda itu dari gigitannya.
"Jangan digigit dong Mir. Kasian kan telinganya bisa luka nanti.." goda Soni. Muka Miranda semakin memerah. Dia berdiri dengan bingung dan gelisah tanpa berani menatap wajah cowo ganteng didepannya itu.
"Kamu lagi ngumpet dari saya ya? gak suka lagi ketemu ama saya Mir?" tanya Soni beruntun.
Miranda menunduk terus. Aduh mak, gimana nih? Kok Soni tanya gitu sih? Apa yang harus kujawab? Masa aku harus bilang kalau aku bukan saja suka, bahkan cinta sama dia? oh!
"Saya pasti sedih banget kalau kamu udah gak mau main sama saja lagi Mir... soalnya sayah suka sekali temenan ama kamu. Ngg.. kamu... kamu lucu..."
Itulah, gumam Miranda sedih. Itulah masalahnya. Soni cuma seneng main², tidak lebih. Dia senang aku karena aku lucu. Walaupun aku sendiri tak tahu dimana letak kelucuanku. Sementara aku senang dia untuk seluruh yang dia miliki. Aku tidak ingin main² terus. Oh, nasib..nasib.
"Mir? kamu cuma lagi males aja kan? iya kan? iya donk. Kalau ya, senyum dong Mir.. sayah udah lama gak ngeliat senyum kamu lagi." pinta Soni sambil tersenyum kearahnya.
Miranda meremas pandanya lagi. Bagaimana mau senyum, kalau ingat cintaku yang menepuk angin kosong? Miranda rasanya sudah lupa mau senyum untuk apa, dan gimana.
"Kalau kamu senyum, saya ada satu kejutan besar buat kamu. Satu hadiah yg bisa bikin kamu bahagia banget,...khusus utk kamu Mir.." bujuk Soni seperti membujuk anak kecil saja.
Kejutan? kejutan apa? Miranda jadi tertarik sekali. Ditelpon pun tadi Soni sudah bilang gitu. Dipandangnya Soni sebulat mata. Ada binar-binar dimata Soni sendiri. Miranda tidak sanggup terlalu lama bertabrakan pandang seperti itu. Dia menunduk lagi.
"Kamu gak mau? demi saya Mir?"
Dagu Miranda diangkat lembut oleh Soni. Wajahnya yang polos benar2 mengguncangkan hatinya.
Tsk.. anak ini... bisiknya, harus disadarkan dari persembunyiannya selama ini. Dia harus mampu lebih menghargai dirinya sendiri. Dan semoga, apa yang kulakukan ini tepat dan bisa menolongnya.
"Ayo donk senyum...." pintanya lagi.
Dan lambat laun, Miranda menggerakan bibirnya. Ada seulas senyum yang merekah malu² disitu. Soni kegirangan sekali. Lalu dikeluarkannya sesuatu dari kantung celananya.
"Hadiah untuk senyummu yang sangat manis itu Mir..."
Miranda menerima amplop itu dengan heran. Apa ini, pikirnya. Ditimang-timangnya surat itu sembari memandang Soni beberapa kali.
"Buka aja Mir.."
Miranda membuka amplop surat itu dan ketika dia membaca isinya, hampir² dia tak percaya akan tulisan disitu. Matanya terbuka lebar-lebar bersamaan dengan mulutnya yang tak mampu bersuara apa-apa.
Soni tersenyum lebar. "Selamat ya Miranda sayang." Diulurkannya tangan dengan semangat.
Untuk beberapa saat, Miranda hanya mampu terpaku bagaikan patung tapi ketika Soni menepuk bahunya, barulah dia sadar apa yg telah terjadi.
"Sonn...ini...." Airmata Miranda mulai menetes jatuh kepipinya.
"Kamu memang hebat Mir. Lukisanmu berhasil menang nomer satu. Kamu bisa mengalahkan ribuan peserta lain. Bahkan lukisanmu akan diikutsertakan dalam lomba tingkat internasional. Nah, sekarang kamu gak perlu ngumpet lagi ya kalo mau gambar..."
Miranda melonjak bahagia dan segera menubruk Soni. Betapa bahagianya dia. Betapa leganya dia. Betapa senangnya menemukan dirinya mampu berprestasi, dan semuanya ini karena Soni.
"Ingat lukisanmu ketika kita ke pantai dulu? Nah, kukirimkan lukisan itu ke lomba yang diadakan bulan kemarin. Aku sudah menduga, lukisanmu pasti akan menang. Kamu nggak marah kan kalau aku melakukannya diam-diam?"
Miranda menggeleng-gelengkan kepala. Bagaimana dia bisa marah kalau Soni malah sudah memberikannya satu jalan yang sangat membantunya nanti. Ya, ya, mengapa matanya buta selama ini. Bukankah dia suka menggambar, mengapa dia tidak memanfaatkannya untuk membantu dirinya sendiri?
"Sekarang kamu nggak marah lagi kan Mir?"
"Maaf Sonn.. saya... hm... " Miranda pingin menggigit bibirnya karena nggak bisa juga mengeluarkan apa yang ingin dikatakannya. Norak deh loe Mir, ejek suara kecil dihatinya.
"Ya ya.. saya ngerti deh. Saya pulang dulu yah, kan kamu pasti masih pengen mlototin surat itu kan? Hehehe... ntar traktir saya yah Mir...?"
Miranda tersenyum malu. Apapun yang diminta Soni rasanya dia mau banget mengabulkannya. Dan ketika Soni mencium keningnya tanpa bilang apa-apa lagi, rasanya Miranda sudah melayang-layang ke langit ketujuh.
"Selamat ya sayang... sukses menantimu." bisik Soni sebelum berlalu.
Miranda memejamkan matanya. Dan sampai Soni sudah tak ada lagi, Miranda masih juga belum membuka matanya. Dia masih ingin menikmati apa yang dilakukan Soni tadi. Ya Tuhan, terima kasih. Terima kasih.
Kemenangan Miranda ini disambut meriah oleh Papa, Mama dan juga Mirella. Apalagi lukisan Miranda dinyatakan lulus seleksi untuk ikut dalam lomba tingkat yang lebih tinggi. Mama kelihatannya bangga sekali dan tak puas-puasnya melihat piala kemenangan Miranda. Sekarang, Mama paling rajin membelikan Miranda kain kanvas baru dan juga alat-alat lukis yg bagus. Miranda menerimanya dengan senang hati.
Bersama-sama dengan Soni, dia juga memberikan sebagian besar uang kemenangannya untuk anak-anak panti asuhannya itu. Saat itulah, pertama kalinya Miranda merasa dirinya berguna dan ada artinya. Dia berjanji akan memberikan bantuan lagi kalau lukisannya berhasil menang lagi.
Dan karena kemenangan itulah, Miranda tidak merasa minder lagi. Bahkan dihadapan Soni pun dia seolah-olah mendapat kekuatan baru untuk menghadapi cowo itu. Cinta yang tadi sempat dikuburnya kini lambat laun tumbuh kembali. Kenapa tidak, pikirnya. Soni sendiri yang bilang kalau aku ini juga punya kemampuan. Nah, kalau sudah gitu, aku boleh kan...
Lukisan wajah Soni setiap hari disempurnakan Miranda. Dia ingin memberikan kejutan buat cowo itu sekaligus membalas apa yang telah diberikan Soni padanya. Dan pada malam ulang tahun Soni, dibalik pigura lukisan itu, Miranda mengukir halus nama Soni dengan indahnya. Untuk Soni yang paling kusayang.
Langkah Miranda begitu mantap malam itu. Walaupun Mirella tetap lebih cantik dan gemerlap dengan gaun peraknya, tetapi Miranda tidak merasa kecil lagi. Digenggamnya erat-erat kadonya sendiri.
Soni sendiri yang menyambut mereka . Yang diundang cuma teman-teman dekat saja, kata Soni waktu Mirella menanyakan kenapa masih sepi-sepi saja. Dada Miranda berdebar kencang lagi saat Soni menatapnya lalu mencium pipinya lembut.
"Dia cakep sekali ya Mir..." bisik Mirella ditelinganya. Miranda cuma manggut-manggut saja sebab dia sibuk memperhatikan Soni yang malam itu memang tampak keren sekali dengan stelan kemejanya.
Miranda tersenyum dalam hati. Sesuatu yang tak dimengertinya menyelinap perlahan ke relung hatinya. Dia harus segera memberikan kadonya. Soni harus melihatnya sebelum dia melihat hadiah yg lain.
Miranda maju mendekati Soni yang sedang sibuk melayani beberapa tamunya. Ada dua orang cowo dan tiga cewe.
"Sonn..." panggilnya pelan. Soni tidak mendengar. Dia tengah menggandeng lengan seorang gadis yang cantiknya bukan main. Miranda menelan air liurnya dengan susah payah.
"Soni" ulangnya.
Barulah Soni sadar dan agak terkejut menemukan Miranda ada disitu dengan gaya yang salah tingkah. Segera dilepaskannya gandengannya dan menghampiri Miranda.
"Hai Mir.. kenapa? sudah minum?"
Miranda mengangguk asal saja. Diserahkannya bungkusannya. Mula-mula Soni tidak mengerti, tapi kemudia tertawa.
"Apa ini Mir?"
"Buka saja" kata Miranda dengan jantung berdetak kencang.
"Oh iya... tapi kenalin dulu deh ini. Kmu kan belum kenal sama temen-temen saya yang ini Mir,.."
Miranda mengulurkan tangannya pada kelima sahabat Soni. Semuanya wajah baru, terutama cewe yang digandeng Soni tadi. Cantiknya begitu menyilaukan mata Miranda. Dari mana Soni punya sahabat secantik ini?
"Nah ini Mir, yg kemaren baru datang dari States.. namanya Tiana. Tiana Sundoro yang sebentar lagi jadi Tiana Wenas. Iya kan Titi?" Soni mengedipkan matanya lucu.
Gadis cantik itu tertawa manis sembari mencubit pinggang Soni, sementara teman² Soni yang lain tertawa riuh. Miranda sendiri tidak tahu harus ikut tertawa atau malah menangis. Tiana Wenas? Soni Wenas? Apa... apa yg terjadi sebenarnya?
"Iya donk Son... Tiana datang jauh-jauh dari sana khusus buat ulang tahun loe. Apa namanya kalau bukan ehm ehm..." goda teman-teman mereka.
Miranda mengerjapkan matanya. Jangan, jangan disini, doanya. Jangan disini Tuhan. Aku tidak boleh menunjukkan apa2. Tidak boleh.
"He he he he... cewe setia kayak Tiana memang jarang ya. Nah tapi adik sehebat Miranda juga jarang-jarang lho... Eh kalian tau kan? Miranda baru aja menang lomba melukis" promosi Soni sambil menarik lengan Miranda.
"Ohya?? Selamet dongg..." lalu mereka semuanya menyalami Miranda, demikian juga Tiana.
"Soni suka cerita tentang kamu di emailnya. Dia bilang dia seneng sekali dapat adik seperti kamu, Mir.. "
Ya, ya, betapa senangnya punya kakak seperti Soni, gumam Miranda hambar dan hampa. Adik dan kakak. Betapa manisnya.
Dan ketika Soni membuka bungkus hadiahnya, seruan kagum setiap orang tidak mampu mengisi kehampaan itu. Soni sampai dua kali mencium pipinya untuk mengucapkan terima kasih. Tapi Miranda tidak lagi mampu mencernakan apa-apa. Semuanya saat itu terasa hampa dan hambar.
Usai pesta, Soni mengantarkan mereka pulang, walaupun Miranda sudah menolak. Mirella yang juga sudah dikenalkan dengan Tiana juga terlihat agak kecewa, tetapi dengan cepat bisa ceria lagi. Sementara Miranda masih merasa terpukul.
"Terima kasih ya Mir, buat hadiahnya. Saya senang sekali dan tak menyangka kamu mau melukis untuk saya." kata Soni sebelum Miranda masuk rumah.
"Yah, sayah sudah melakukannya sejak bulan lalu..." Miranda menjawab setengah melamun. Langit malam itu kelam sekali. Sekelam hatinya yang belum bersiap-siap sama sekali.
Seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Miranda. Soni menggenggam jemari Miranda dengan sayang.
"Maafkan saya Mir. Maafkan bila saya menyakiti hatimu."
Miranda menyusut airmatanya. Tidak, tidak usah ada airmata lagi. Untuk apa? Dia kan sudah bahagia dengan gadis yang amat cantik itu. Itu kan yg paling perlu?
"Tidak Son... kamu nggak salah kok. Saya aja yg suka ngawur. Suka mimpi yang aneh-aneh..."
Soni menghela napas panjang. Dia sudah tau apa yang mengusik hati Miranda, tetapi menyesal tidak mampu memberikan bantuan. Dia sendiri bingung harus berbuat apa.
"Saya sayang kamu Mir.. Sungguh. Kamu mau jadi adik saya terus kan?"
Miranda tersenyum pahit. Kilau dimatanya menyorotkan satu pengertian baru. Dianggukkannya kepalanya.
"Kan selama ini saya memang jadi adik kamu Son. Kak Soni."
Soni kagum sekali dengan pengendalian diri dan emosi Miranda. Gadis kecil ini sudah menginjakkan langkah dewasanya. Ditepuknya pipi Miranda perlahan sebelum berlalu.
Malam itu dikamarnya, dengan panda pemberian Soni dalam dekapannya, Miranda mengambil buku hariannya.
Pipinya masih basah. Hatiku juga masih basah, dear diary, tulisnya. Entah kapan keringnya. Tetapi aku yakin, suatu hari nanti akan kutemukan pangeranku sendiri. Sekarang aku harus mewujudkan apa yang kujanjikan pada diriku sendiri. Menjadi Miranda yang percaya diri. Miranda yang mandiri. Ditengah-tengah airmatanya, ada sebentuk senyum mengintip disudut-sudut bibirnya.
(the end.)
