skrapnovel

Name:
Location: California, United States

http://jazzholic.com

Friday, May 28, 2004

Miranda (Edisi Kedua)



"Kamu pacaran ama Soni ya, Mir?" tanpa tedeng aling² Mirella bertanya pada adiknya malam itu.

Miranda kaget sekali mendenger pertanyaan Mirella. Dipandangnya wajah Mirella dengan heran.

"Pacaran?"

"Iya. Apa dong namanya kalo bukan pacaran? Masa kemana² selalu berdua dan dia rajin nanyain kamu kalau kesini," Mirella sepertinya tidak bisa menyembunyikan perasaannya.

Miranda tidak segera bisa menjawab. Dan memang dia tidak tau jawaban apa yang harus diberikan pada Mirella, sebab ia sendiri bingung kenapa Mirella menuduh dia pacaran dengan Soni. Mereka memang selalu kemana² berdua dan Soni rajin ke rumah. Tetapi apa Mirella tidak tahu kalau Soni tidak punya kerjaan lain selain ngegodain gue aja? Lain nggak.

Lagian, orang yang pacaran itu yang gimana sih?

"Kok bengong sih? Mir, Mir... dia udah ngomong apa aja sih ke kamu?"

"Ngomong apa? Wah, macam-macam. Tapi yg paling sering sih, Soni selalu bilang kalau gue lucu, lucu dan lucu. Itu aja."

"Kamu beruntung sekali ya Mir, bisa dapetin dia. Mana anaknya kece, keren, terus baik lagi. Mama aja seneng banget ngeliat Soni. Gue aja.. ehm..ehm..sama dia..." kata Mirella terus terang.

Miranda sedikit kaget mendengarnya. Mirella suka ama Soni? Busyet, ini berita besar namanya. Selama ini Mirella nggak pernah ngomong gitu soal cowo walaupun fansnya bejibun. Dia selalu menganggap cowo² fansnya itu kekanak²an dan nggak bisa diandelin sebagai pacar.

"Kamu suka dia?"

"He eh. Tapi gak usah takut Mir. Gue gak bakal ngerebut dia dari kamu kok. Gue seneng loe dapet cowo sebaik Soni."

Mirella menepuk bahu adiknya dengan sayang. Miranda jadi terharu sendiri. Dia tidak tahu apa dia pacaran dengan Soni atau nggak, tapi pernyataan Mirella tadi sungguh melegakan hatinya. Jadi selama ini dugaannya salah. Dia yg sok tahu. Ah, dia jadi malu hati sendiri. Aku harus melakukan sesuatu juga untuk Ella.... gumamnya.

keesokan harinya... pada suatu sore...

"Ella itu manis sekali ya Son?" kata Miranda setengah bergumam ketika sore itu mereka berdua tengah asyik memeras otak dalam menjalankan bidak-bidak catur. Rumah Soni tengah sepi karena orangtuanya pergi kondangan.

Soni tidak menjawab. Dia tengah sibuk memikirkan langkah berikutnya. Sebab menterinya lagi diancam habis²an sama menteri dan kuda Miranda. Ternyata gadis itu punya otak caturan juga. Kedudukan mereka sudah tiga satu. Bayangin gimana nggak malu kalau dikalahin sama gadis ingusan seperti Miranda.

"Sonn..." kali ini panggilan Miranda terdengar lembut. Pikirnya, dengan begitu, Soni akan mau memberikan sedikit telinganya dan tidak still cuek terus.

Tapi Soni mana mau mendengar. Kedudukan biji caturnya sedang terdesak. Gengsinya sebagai cowo menulikan kedua telinganya. Dengan begitu, Miranda jadi kesal sendiri, dan kemudian menghentakkan kakinya.

"Sonn!!!" nada suaranya berubah drastis. Kesel juga dia digratisin begitu.

Kontan Soni pun berhenti dari acara berpikirnya dan memandang Miranda setengah bengong.

"Apa Mir?"

Ditanya seperti itu, gantian Miranda yg bingung sendiri. Dia jadi malu mau ngomongin kakak sendiri. Tapi niatnya mau bantuin Mirella juga gede, jadi...?

"Mau nanya apa sih Mir?" tanya Soni nggak ngerti kenapa gadis itu malah mogok ngomong.

"Ngg...anu, nggg...jalan ke pantainya jadi nggak?"

Nah lho, kan jadi lain ngomongnya, protes hati kecil Miranda. Tapi Miranda cuek saja, soalnya dia takut malu sendiri kalau Soni menggodanya nanti.

"OoOo...itu... ya jadi dong. Kirain apa. Udah ah, saya lagi mikir nih. Kok mentri saya kesehatannya gawat sekali ya?" Soni menggaruk² kepalanya dengan muka amat serius sambil kembali memperhatikan papan catur didepannya itu.

Mau nggak mau Miranda tersenyum sendiri sambil memperhatikan tampang Soni yang keren. Mirella masih sering memuji² Soni sampai akhirnya Miranda sendiri ikut²an mengiyakan bahwa sahabatnya itu emang punya daya pikat yang kuat.

Teman-temannya saja pernah sampai menjerit-jerit histeris ketika melihat Soni datang ke sekolah menjemputnya. Miranda boleh ikut bangga dong, walaupun dia sendiri nggak tau harus bangga karena apa.

Selama bersahabat dengan Soni, banyak hal yg dipelajari Miranda. Walaupun tanpa lewat kata², Soni mengajarkannya untuk lebih berani dan tidak terlalu menyimpan diri dalam kamar. Soni memperkenalkannya dengan kegiatan² baru yg ternyata menyenangkan juga. Misalnya, berenang setiap hari Minggu dan ikut kegiatan rutin Soni mengunjungi sebuah rumah panti asuhan. Soni setiap hari Rabu sore main piano disana untuk menghibur anak² yatim piatu itu.

Kekaguman Miranda pada sahabatnya itu semakin bertambah setiap hatinya. Walaupun Soni sering menggodanya dan membuatnya kesal, tetapi Miranda tahu, Soni tidak pernah bersungguh² membuatnya kesal. Ah, dia memang baik, gumam Miranda mencuri pandang. Baik dan nyenengin. Kata Mirella, pasti jadi idola cewe² dikampusnya juga.

"Kalau kamu bukan pacarnya, siapa dong?" tanya Mirella dua hari yg lalu setelah Miranda mengaku secara sambil lalu kalau dia dan Soni cuma sahabatan.

Miranda menggeleng dengan muka putus asa. Mana dia tahu? Soni nggak pernah bilang kalau dia sudah punya atau belum punya pacar. Lagian, urusan apa dia mesti bikin pengakuan seperti itu padaku?, gerutu Miranda kesal juga karena Mirella selalu mengorek-ngorek soal Soni. Tanya aja sendiri.

"Non, giliranmu! Melamun apa lagi sekarang?" tiba² Soni menyenggol kakinya.

Miranda meloncat kaget dan malu setengah mati karena ditertawakan Soni. Rupanya Soni sudah berhasil menemukan jalan untuk menyelamatkan menterinya. Miranda ngomel² dalam hati. Coba kalau dia tahu apa yg gue lamunin, wah bisa bengkak kepalanya.

Miranda menjalankan lagi bidaknya. Kali ini dengan langkah maut. Skak mat, langsung! Miranda terkekeh sendiri melihat Soni kaget seperti disamber petir siang hari bolong. Siapa suruh melawan pakarnya? Miranda selalu melatih dirinya melalui buku² yang dipelajarinya sendiri dialam kamar setiap kali dia menyimpan diri disitu. Refreshinglah namanya setelah capek ngerjain gambarnya atau habis belajar.

"Cilaka! Kok malah jadi apes gini yah?!?" teriak Soni gemas.

Miranda mengangkat bahu tinggi². Dia sudah bersiap² untuk pulang sebelum Soni minta ronde baru lagi. Dia sudah capek dan pingin tidur dulu sebelum belajar, ada pe-er segudang dari guru killernya.

"Hey hey.. mau kemana?" tanya Soni melihat Miranda sudah berkemas-kemas memungut buku² yang dipinjamnya dari perpustakaan Soni.

"Pulang. Ngantuk. Salam nggak?"

"Salam? Oh ya ya, salam ya buat Om dan Tante." Soni rupanya masih berkabung dengan kekalahan telaknya itu sehingga kurang memperhatikan kata² Miranda lagi.

"Untuk Ella?" pancing Miranda hati-hati.

Soni mendongakkan kepala sambil membereskan anak² catur ke dalam kotaknya.

"Ella? Oh iya dong , salam juga buat Ella."

"Pake bumbu apa?"

Soni sudah selesai membereskan mejanya. Diantarnya Miranda sampai pintu gerbang.

"Bumbu? Bumbu apa?" tanyanya tak mengerti.

Miranda memandang Soni dengan kesal. Dasar cowo begow, gerutunya. Masa nggak ngerti sih? Uh, payah.

"Bumbu masak." akhirnya dia yang nyeletuk kesal. Soni mengerutkan kening melihat Miranda yang seperti mau mutung lagi.

"Eh jangan lupa Mir. Kamu pinjemin saya pensil gambar ya?"

"Pensil gambar? Untuk apa?"

"Lho kan saya udah bilang kemarin, saya lagi niatin nich mau melukis di pantai. Keren kan? Tapi itulah, pensil gambar saya hilang tuh entah kemana. Mau beli lagi bokek nih. Saya lihat kamu punya banyak. Boleh dong pinjem satu?"

Miranda mengangguk setengah bengong. Sampai dia pulang pun, dia nggak ngerti dari mana SOni tahu dia punya banyak pensil gambar. Dan katanya tadi, dia punya niat mau melukis di pantai. Heran, memangnya Soni melukis juga?

Sementara itu, Soni tertawa geli telah berhasil membuat Miranda penasaran. Dia memang sudah punya rencana yang hebat. Rencana untuk Miranda, gadis polos yang punya penyakit minder itu.

pada suatu malam....

Lagu First Love mengalum perlahan lewat CD yg diputar Miranda. Suara Nikki Costa yang jernih dan khas itu menyelinap ke telinga Miranda yang tengah melamun. Diatas meja belajarnya masih berserakan buku² pelajarannya. Sebenarnya dia ada tugas yang harus dikerjakan, tetapi dia menyerah. Tidak bisa menolak ajakan untuk melamun. Pikirannya dipenuhi bayangan satu mahluk.

Semuanya bermula dari dua hari yang lalu. Dihari ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Tidak ada perayaan, tidak ada pesta. Sebab Miranda memang tidak berniat merayakannya, walaupun Mama memberi ijin dia mengundang teman²nya. Tapi Miranda menolak. Dia tahu teman²nya datang bukan saja untuk dia, tapi terutama biar bisa dekat idola mereka, Mirella.

Tapi Mama tetap bersikeras membuat makan malam yang special untuk keluarga. Miranda senang juga sih, tapi yang membuat dia lebih happy adalah kehadiran cowo itu. Cowo yang memang tidak diundang Miranda tapi rupanya mendapat pemberitahuan khusus dari Mama. Benar² cowo kesayangan Mama rupanya.

Miranda memperhatikan tingkah laku kakaknya yg malam itu makin cantik saja. Soni sendiri memuji dengan sungguh². Miranda sempat nggak enak sendiri melihat Soni menatap Mirella berkali² dengan pandangan kagum. Sementara Soni cuma bilang dia manis dengan gaunnya. Dan Miranda menduga pujian Soni tadi cuma basa-basi saja. Dia jadi nyesel kenapa tidak meminta gaun yang sama seperti punya Mirella pada Mamanya.

Soni duduk ditengah-tengah Miranda dan Mirella. Lagi² Mirella mendapat pujian dari Soni atas puding caramel buatannya. Uh, hati Miranda semakin nggak enak saja. Yang ulang tahun siapa sih?, gerutunya kesal.

Setelah makan malam, mereka duduk² didepan. Soni memberikan sebuah bungkusan kecil. Miranda terperangah. Menerima dengan dada yang tiba² berdebar aneh. Tatapan lembut Soni ketika itu membuat dia jadi salah tingkah sendiri.

Dan sekarang, setelah dia hanya sendiri didalam kamarnya dan kejadian itu telah berlalu dua hari yang lalu, bekasnya masih saja mengganggu Miranda. Hadiah Soni sungguh manis. Sebuah boneka panda kecil yang lembut sekali dan sekotak pensil gambar.

Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa aku jadi rajin mikirin dia? Kenapa bayang-bayangnya nggak mau pergi dan bikin aku nggak bisa konsentrasi belajar? Miranda mengeluh sendiri dalam kebingungan dan ketidaktahuannya itu. Betapa ingin dia mengadukan semua ini pada orang lain. Tetapi siapa? Mama pasti akan menertawakannya dan bilang dia buat ulah lagi. Pada Mirella? Wah, sementara kakaknya sendiri suka setengah mati sama Soni.

Hmpff.. susah, susah, keluhnya. Diraihnya boneka panda itu dan mendekapnya perlahan, penuh perasaan. Dibelai-belainya dengan sayang. Lalu ketika matanya tertumpuk pada pensil gambar pemberian Soni, mendadak dia ingin melakukan sesuatu. Sesuatu yang selama ini tak pernah dilakukannya.

Sisa malam ini dihabiskan Miranda dengan menggunakan pensil gambar pemberian Soni.

beberapa hari kemudian...

"Lihat saja nanti. Gambar buatanku pasti mirip sekali sama aslinya..." kata Soni membanggakan diri.

Miranda mencibir. Sudah sejak sejam yang lalu Soni berusaha memindahkan gelombang laut didepannya ke atas kain kanvasnya, tetapi dimata Miranda gambaran Soni itu seperti coretan-coretan tak berarti, tak berbentuk.

"Eh, nggak percaya. Lihat aja!"

Mirella menarik lengan Soni dengan manjanya. Cibiran Miranda semakin panjang, tetapi kali ini cuma dalam hati.

"Sonn...yuk jalan aja, yuk. Ngapain sih disini mulu..." ajaknya manja.

"Wah La...kan saya mau melukis nih..." gaya Soni seperti pelukis professional saja. Nggak mau diganggu.

"Aaahh ngelukis apaan sih? Nanti aja deh Sonn.... saya lagi kepingin jagung bakar nih..."

Soni menggaruk-garuk pipinya. Miranda membuang mukanya kearah laut. Pasang mungkin akan datang beberapa jam lagi. Burung-burung laut sudah ribut mencari tempat untuk beristirahat. Langit tampak merah untuk menunjukkan jalan sang mentari yang ingin kembali ke peraduannya. Hati Miranda berdegup kencang melihat keindahan alam itu.

"Iya deh. Mir, mau ikut?" akhirnya Soni mengalah juga sama ajakan manja Mirella.

Miranda mengigit bibirnya sembari menggeleng. Ada yang menusuk hatinya melihat betapa mesranya Mirella merangkul lengan Soni.

"Kalian aja deh. Gue nunggu disini aja. Nungguin barang." katanya pahit tetapi tetap berusaha ceria.

"Kamu nggak apa² kan?" tanya Soni sedikit khawatir.

"Nggak. Gue sehat-sehat aja. Udah sono gih..." usirnya.

Soni meletakkan pensil gambarnya dan menarik lengan Mirella. Kikik geli Mirella terdengar ditelinga Miranda. Uh, kecentilan, omelnya dalam hati.

Dipandangnya punggung Soni dan Mirella. Yang satu tinggi, yg lain semampai. Yang satu cakep, yang lain cantik. Serasi, selaras dan cocok sekali. Miranda harus mengakui itu. Dan ketika dia sadar dirinya amat jauh dibandingkan Mirella, Miranda berusaha mengusir jauh² perasaan terlukanya.

Beberapa menit dilaluinya dengan bengong. Matahari sudah semakin jelas menapakkan jejaknya dengan semakin merahnya langit. Laut jadi ikut-ikutan merah karenanya. Beberapa perahu kecil bergoyang-goyang dihempas gelombang. Miranda memperhatikan semuanya dengan mata tak berkedip.

Lalu, seperti disihir saja, dia sudah mengganti kain kanvas Soni dengan yang baru. Kemurungannya, kekecewaannya, kekesalannya dan segala macam perasaan hatinya tertuang dan tertumpah seluruhnya dalam kanvas itu, lewat coretan-coretan pensilnya.

Hampir satu jam lebih Miranda membawa seluruh kesannya tentang alam di senja hari itu dalam lukisannya. Dan ketika dia selesai, saat itulah dia melihat pasangan Mirella dan Soni tengah melangkah mendekatinya. Mereka seperti menertawakan sesuatu dan rupanya lucu sekali sehingga tawa mereka begitu kencang terdengar. Dengan gugup, Miranda segera menurunkan gambarnya dan mengembalikan kanvas Soni.

"Eh, sudah kembali. Mana jagungnya?"

"Uhh jauhhh Mir. Susah carinya. Ini juga baru dapat setelah kita muter² ke mana²..." lapor Mirella.

Tapi kamu pasti suka kan... ejek Miranda dibatinya. Uh, pake pura² ngeluh segala.

"Kamu ngapain aja Mir?" tanya Soni sambil mengulurkan jagung bagian Miranda.

"Ngga ngapa²in. Ngeliatin orang lewat.." kata Miranda cepat-cepat.

"oOoOo..." tukas Soni sembari melirik guluangan kain kanvasnya. Miranda pura² sibuk dengan jagung bakarnya. Semoga dia nggak curiga sama sekali, pikirnya. Sebelum pulang, aku akan menyelipkan gambarku tadi. Tapi....

"Wah, sudah sore banget nih. Kita pulang yuk." ajak Soni.

"Tapi, kita kan belum liat sunset Son?" ajuk Mirella.

"Aduh, lain kali deh La. Ada kerjaan lain nich.." ungkap Soni dengan muka menyesal.

Miranda bangkit hendak membereskan barang² mereka, tetapi segera dicegah oleh Soni.

"Eh eh. nggak usah Mir. Biar saya yang beresin. Kamu tenang-tenang sajalah. Gadis semanis kamu dilarang kerja berat."

Pipi Miranda jadi membara. Akhirnya, Soni yang membawa semua perlengkapan mereka kedalam mobil. Jantung Miranda semakin nggak keruan rasanya ketika Soni memintanya duduk di sebelahnya. Dia bahkan nggak perduli sama perasaan Mirella ketika Soni mengajaknya nonton malam besok.

..lalu pada suatu Rabu sore seperti biasa...

Miranda menarik napas kagum setengah mati saat Soni menyelesaikan nada² klasik pada toets-toets piano itu. Anak² panti asuhan juga tampaknya ikut terbuai dengan permainan Soni yang bagus bukan main itu. La Fontainne seolah-olah meloncat keluar lewat ketukan² jari Soni.

Begitu Soni selesai, semua penonton bertepuk tangan kencang². Tidak ketinggalan Miranda. Rasanya kalau bisa ingin rasanya bertepuk tangan terus untuk Soni. Biarpun sudah berkali² dia melihat Soni main piano, tapi setiap kali Soni menyelesaikan satu lagu, Miranda tetap saja kagum. Tetap saja tergila-gila menatap sahabatnya itu. Soni memang terlalu hebat dimatanya.

Baru minggu kemarin cowo itu memenangkan satu kontes piano yang bergengsi. Rasanya ingin meledak dada Miranda karena bangga melihat sahabatnya menerima piala kemenangan. Hampir menitik air matanya tatkala diluar gedung, Soni menyerahkan buket mawarnya untuk Miranda. Miranda ingin melompat memeluk tapi dicegah oleh perasaan malunya. Apalagi ada Papa dan Mama Soni.

Kalau saja aku bisa memiliki dia selama-lamanya, bisik Miranda sendu, betapa bahagianya. Soni tidak pernah memandangku lebih rendah daripada Mirella seperti yang lainnya. Dia memberikanku kepercayaan diri yang sangat membantuku bangkit dari sifat minderku selama ini.

Tapi, apa yang kupunyai untuk mengimbangi dia? Miranda mengeluh melihat dirinya tidak punya apa² yang bisa dibanggakan. Dia tidak pintar dan tak pernah jadi sepuluh besar di kelasnya. Dia juga tidak cantik seperti Mirella. Tidak punya suara bagus seperti Santi. Tidak bisa piano atau memainkan alat musik lainnya. Aku memang tidak bisa apa², keluh Miranda putus asa sendiri. Bahkan jadi anak kesayangan Mama pun tidak bisa. Lantas, apa yang harus dibanggakan Soni nantinya?

Miranda menggeleng²kan kepala. Sedih. Bayangannya untuk bisa jadi doi Soni pupus dengan sendirinya. Soni harus dapat yang lebih baik, yang bisa mengimbangi kehebatannya.

"Mir, Mir... tolong dong. Aduh ni anak, dimana² kerjaannya kok melamun terus sih?" seru Soni yang rupanya tengah kerepotan melayani anak² yang rebutan kue bawaannya.

Miranda tersadar dari lamunannya. Dia buru² meloncat mendekati Soni dan mengambil keranjang kuenya. Kesedihannya agak terobati melihat keriangan anak² kecil itu. Anak² yang tidak tahu siapa bapak dan ibunya lagi. Anak² yang harus berjuang sendirian ditengah dunia yang ganas ini.

Terenyuh hati Miranda melihatnya dan tanpa disadarinya, ada airmata yang menetes begitu saja. Betapa besar keinginannya untuk menolong mereka, menghibur anak² malang itu. Tetapi apa yang bisa kulakukan, tanya Miranda pada dirinya sendiri. Bagaimana aku bisa menolong mereka kalau aku sendiri merasa perlu ditolong?

Sampai anak yang terakhir, airmata Miranda belum kering juga. Soni menyentuh bahunya lembut dan memandangnya tajam. Miranda menunduk malu, tak sempat menyeka pipinya lagi.

"Kamu menangis Mir? Kenapa?"

Pertanyaan halus Soni membuat Miranda malah semakin tidak mampu menahan airmatanya. Kesedihannya yang selalu ini suka mengganggunya seperti menemukan penyalurannya. Dia jadi tersengguk-sengguk bagaikan anak kecil. Soni membawanya dalam pelukan yang lembut sekali. Pelukan yang mendamaikan hati Miranda.

"Ada apa Mira? Barangkali saya bisa membantu kamu...?" tanyanya lembut sambil membelai² lembut rambut Miranda.

Gadis itu menunggu sebentar sampai isaknya tidak terlalu menyulitkannya bicara. Dinikmatinya sejenak pelukan Soni lalu merenggangkan tubuhnya.

"Sorry, gue cengeng sekali ya?" lalu dengan punggung tangannya disekanya pipinya yg basah.

Soni mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan pipi gadis itu perlahan. Betapa sayangnya dia pada gadis polos yg satu ini. Sayang yang tak mampu dia beri nama apa.

"Kamu sedih melihat anak² itu Mir?"

Miranda mengangguk pelan. Soni membawanya duduk disudut ruangan.

"Kenapa kamu harus sedih? mereka sendiri bahagia disini.."

"Tapi..tapi... mereka tidak punya ayak, tidak punya ibu lagi Son. Mereka hidup atas belah kasihan orang lain. Mereka masih terlalu kecil, mereka..."

Miranda tak sanggup meneruskan lagi. Dan dia jadi sadar kalau selama ini dia sendiri tidak menghargai apa yang dimilikinya: mama dan papa. Entah berapa kali dia membuat Mama kesal dan marah dan sedih. Maafkan Mira, Ma, bisiknya. Meskipun Mama suka tidak adil, tetapi Miranda juga tidak bisa membayangkan satu hari nanti tidak ada Mama lagi.

"Mira..Mira... meskipun mereka kehilangan Mama dan Papa mereka, tetapi kehilangan itu telah menempa mereka untuk menjadi anak² kuat dan mandiri. Dirumah ini mereka mendapatkan latian² keterampilan yg berguna sehingga kalau mereka dewasa nanti, mereka sudah punya modal." Soni menjelaskan panjang lebar.

Miranda melongo mendengarnya. O, jadi begitu rupanya. Sungguh, dia ikut lega sekali.

"Gue pingin sekali membantu mereka Son. Tapi gue nggak bisa apa² sih. Coba ya kalau gue bisa cari duit sendiri, pasti gue sumbangin deh buat mereka. Atau kalau gue bisa main piano, atau main apa kek, gue kan bisa menghibur mereka. Dasar gue yg bego yah? Hmpff... " Miranda menarik napas panjang.

Soni tersenyum lebar sambil menggapai bahu gadis yg merasa dirinya malang dan bodoh itu.

"Kamu sungguh² pingin menolong mereka Mir?"

"Sungguh. Tapi gue bisa apa, bisa kasih apa? Duit gue aja pas² dari Mama. Gue nggak pernah nabung sih." sesal Miranda. Selama ini uang sakunya habis buat beli kertas gambar dan pensil².

Soni tertawa kecil. Disambarnya keranjang kue dan menggandeng Miranda ke mobil.

"Kamu bisa melakukan banyak hal Mir. Banyak sekali. Perhatikanlah kemampuanmu sendiri dan kembangkanlah untuk sesamamu." ujar Soni.

Miranda memandang dengan kening berkerut. Dia tidak mengerti apa maksud Soni, dan ingin bertanya lagi. Tapi cowo itu cuma tersenyum saja, seolah-olah menyimpan sesuatu yang tak boleh diketahui siapapun. Miranda pun akhirnya sibuk berpikir sendiri, tapi tak mampu memenukan jawabannya sampai akhirnya tiba dirumah.

(bersambung..)